Sahabat Wirausaha,

selama ini nangka lebih sering dipandang sebagai buah tropis yang dikonsumsi dalam bentuk sederhana, seperti kolak, campuran es buah, atau sayur nangka muda. Namun dalam beberapa tahun terakhir, nangka mulai mendapatkan perhatian baru di industri pangan global.

Di berbagai negara, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, nangka muda mulai digunakan sebagai bahan alternatif dalam menu plant-based food atau makanan berbasis tanaman. Teksturnya yang berserat membuat nangka mampu menyerupai serat daging ketika dimasak dengan bumbu tertentu. Karena itulah, beberapa restoran vegetarian menggunakan nangka sebagai bahan untuk menu seperti pulled jackfruit sandwich, taco vegetarian, hingga barbeque vegan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa nangka tidak hanya memiliki nilai konsumsi lokal, tetapi juga mulai dilihat sebagai bahan inovasi pangan. Bagi pelaku usaha, perkembangan ini membuka peluang baru untuk mengembangkan ide bisnis UMKM berbasis olahan nangka dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibanding menjual buah segarnya saja.


Produksi Nangka Indonesia dan Potensi Nilai Ekonominya

Indonesia termasuk negara tropis yang memiliki produksi nangka cukup besar. Tanaman ini mudah tumbuh di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan, baik di kebun pekarangan maupun kebun campuran masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi nangka di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir berada di kisaran ratusan ribu ton per tahun dan tersebar di berbagai wilayah penghasil buah tropis. Produksi ini tersebar di berbagai provinsi, dengan Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi beberapa wilayah dengan produksi relatif tinggi.

Meski produksinya cukup besar, sebagian besar nangka masih dipasarkan dalam bentuk:

  • buah segar di pasar tradisional
  • bahan masakan rumah tangga
  • bahan sayur nangka muda

Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah dari komoditas nangka masih relatif terbatas. Padahal jika dilihat dari karakteristiknya, nangka memiliki beberapa keunggulan sebagai bahan baku produk pangan:

  1. Tekstur berserat yang mampu menyerupai serat daging.
  2. Rasa relatif netral, sehingga mudah menyerap bumbu masakan.
  3. Ukuran buah besar, sehingga menghasilkan bahan baku cukup banyak dalam satu buah.

Karakteristik ini membuat nangka cukup potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan nangka bernilai tambah.

Baca juga: Manfaat Kersen yang Mulai Diteliti dan Potensi Bisnis UMKM dari Tanaman Liar


Mengapa Nangka Mulai Dilirik Industri Pangan Global?

Dalam beberapa tahun terakhir, industri makanan global mengalami perubahan yang cukup signifikan. Meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan mendorong berkembangnya pasar plant-based food, yaitu produk pangan berbasis bahan nabati yang dirancang sebagai alternatif daging.

Menurut laporan Good Food Institute (2023), pasar makanan berbasis tanaman terus mengalami pertumbuhan di berbagai negara, terutama di Amerika Utara dan Eropa. Produk seperti burger nabati, sosis vegan, hingga makanan siap santap berbasis tanaman semakin banyak ditemukan di pasar ritel maupun restoran.

Dalam tren ini, beberapa bahan pangan mulai digunakan sebagai pengganti tekstur daging, misalnya kedelai, kacang polong, jamur, dan termasuk nangka muda.

Tekstur nangka yang berserat membuatnya mampu menyerupai serat daging ketika dimasak dengan bumbu tertentu. Sejumlah media pangan internasional seperti BBC Good Food dan The Guardian mencatat bahwa nangka mulai digunakan dalam berbagai menu vegetarian seperti taco, burger, hingga hidangan barbeque vegan.

Bagi Indonesia sebagai negara tropis penghasil nangka, perkembangan ini memberi perspektif baru. Komoditas yang selama ini banyak dijual dalam bentuk segar sebenarnya memiliki peluang untuk diolah menjadi produk pangan yang mengikuti tren pasar global.


Ide Bisnis UMKM dari Olahan Nangka

Jika diolah dengan pendekatan produk yang tepat, nangka dapat menjadi bahan baku berbagai produk bernilai tambah. Selama ini buah ini memang lebih sering dikonsumsi secara langsung atau dijadikan bahan masakan tradisional. Namun dengan sedikit inovasi, nangka sebenarnya dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha skala UMKM.

1. Keripik Nangka Premium

Salah satu produk yang cukup dikenal adalah keripik nangka. Di beberapa daerah seperti Malang dan Lampung, produk ini sudah lama menjadi oleh-oleh khas yang cukup diminati wisatawan. Meski demikian, peluang inovasi dalam produk ini masih terbuka luas. Pelaku usaha dapat mengembangkan varian rasa yang lebih modern, memperbaiki desain kemasan agar terlihat lebih premium, atau menghadirkan ukuran snack yang lebih praktis untuk pasar ritel. Keunggulan keripik nangka terletak pada daya simpannya yang relatif panjang serta kemudahan distribusi, sehingga produk ini cukup cocok dipasarkan melalui platform digital maupun marketplace.

2. Abon Nangka

Nangka muda juga dapat diolah dengan bumbu khas sehingga menghasilkan tekstur yang berserat dan menyerupai abon. Produk ini mulai menarik perhatian konsumen yang mengurangi konsumsi daging atau yang tertarik mencoba makanan berbasis tanaman. Dalam beberapa tahun terakhir, tren makanan vegetarian dan plant-based food semakin berkembang di berbagai negara. Dalam konteks ini, abon nangka dapat menjadi salah satu alternatif produk yang unik bagi pelaku usaha kuliner yang ingin menghadirkan diferensiasi di pasar.

3. Rendang Nangka Siap Santap

Di beberapa daerah Sumatera Barat, nangka muda memang sudah lama dimasak menjadi gulai atau rendang. Namun jika diolah lebih lanjut menjadi produk siap santap dalam kemasan, misalnya menggunakan kemasan retort atau frozen food, nilai jualnya dapat meningkat. Produk seperti ini dapat menyasar konsumen yang membutuhkan makanan praktis namun tetap memiliki cita rasa khas nusantara. Selain itu, rendang nangka juga berpotensi menarik bagi konsumen vegetarian yang ingin menikmati rasa rendang tanpa menggunakan bahan daging.

4. Tepung Biji Nangka

Potensi olahan nangka sebenarnya tidak hanya berasal dari daging buahnya. Biji nangka yang selama ini sering dianggap sebagai limbah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Setelah dikeringkan dan digiling, biji nangka dapat diolah menjadi tepung yang dapat digunakan sebagai campuran dalam berbagai produk seperti kue, cookies, atau produk bakery. Pemanfaatan biji nangka ini tidak hanya membuka peluang produk baru, tetapi juga membantu mengurangi limbah pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah dari satu komoditas buah.

Baca juga: Manfaat Biji Nangka yang Jarang Diketahui, Peluang Bisnis UMKM dari Limbah Buah


Menghitung Potensi Nilai Tambah dari Usaha Keripik Nangka

Untuk melihat bagaimana nilai tambah dari olahan nangka terbentuk dalam praktik usaha, kita dapat melihat simulasi sederhana produksi keripik nangka dalam skala UMKM.

Misalnya seorang pelaku usaha menggunakan sekitar 10 kilogram nangka segar per hari sebagai bahan baku produksi. Dalam proses pengolahan keripik, terutama dengan metode penggorengan seperti vacuum frying, berat buah biasanya menyusut cukup signifikan karena kandungan airnya berkurang. Dari 10 kilogram nangka segar tersebut, hasil akhir yang diperoleh umumnya sekitar 2 kilogram keripik nangka siap konsumsi.

Jika keripik tersebut kemudian dikemas dalam ukuran 100 gram per kemasan, maka satu kali produksi dapat menghasilkan sekitar 20 kemasan produk.

Dari sisi biaya produksi, asumsi yang digunakan dalam simulasi ini cukup sederhana. Bahan baku nangka misalnya dibeli dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram, sehingga kebutuhan bahan baku harian mencapai Rp50.000. Selain itu, terdapat biaya tambahan untuk minyak dan bahan pendukung produksi yang diperkirakan sekitar Rp40.000, serta biaya kemasan sekitar Rp1.000 per kemasan atau Rp20.000 untuk 20 produk. Ditambah kebutuhan gas dan listrik sekitar Rp30.000, maka total biaya produksi harian berada di kisaran Rp140.000.

Jika produk keripik nangka tersebut dijual dengan harga rata-rata Rp15.000 per kemasan, maka dari 20 kemasan yang dihasilkan pelaku usaha dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp300.000 per hari.

Dengan perhitungan tersebut, selisih antara pendapatan dan biaya produksi memberikan margin kotor sekitar Rp160.000 per hari.

Perhitungan ini tentu masih bersifat ilustratif. Dalam praktik usaha yang sebenarnya, pelaku usaha juga perlu memperhitungkan komponen biaya lain seperti tenaga kerja, distribusi, serta penyusutan peralatan produksi. Meski demikian, simulasi ini memberikan gambaran bahwa mengolah nangka menjadi keripik dapat menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan menjual buah nangka dalam bentuk segar.


Tantangan UMKM Mengembangkan Produk Olahan Nangka

Meski peluangnya cukup menarik, pelaku usaha juga perlu memahami beberapa tantangan yang mungkin muncul.

  • Konsistensi bahan baku: Produksi nangka di beberapa daerah dapat dipengaruhi musim panen. Pelaku usaha perlu memastikan ketersediaan bahan baku yang stabil.

  • Teknologi pengolahan: Beberapa produk seperti keripik nangka memerlukan teknologi penggorengan khusus seperti vacuum frying agar hasilnya renyah dan tidak terlalu berminyak. Investasi alat ini bisa menjadi tantangan bagi UMKM pemula.

  • Edukasi pasar: Produk seperti abon nangka atau rendang nangka mungkin masih relatif baru bagi sebagian konsumen. UMKM perlu membangun cerita produk dan melakukan edukasi pasar agar konsumen memahami keunikan produk tersebut.

Baca juga: Peluang Bisnis UMKM Sarang Walet dan Strategi Menguatkan Posisi di Pasar Ekspor


Melihat Komoditas Lokal dari Perspektif Nilai Tambah

Sahabat Wirausaha,

banyak komoditas lokal sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang lebih besar daripada yang terlihat di pasar tradisional. Nangka adalah salah satu contoh menarik.

Selama ini buah ini sering dipandang sebagai bahan makanan sehari-hari. Namun ketika diolah menjadi produk inovatif, nilai ekonominya dapat meningkat secara signifikan.

Perkembangan tren makanan berbasis tanaman di berbagai negara juga menunjukkan bahwa bahan pangan tropis seperti nangka mulai mendapatkan perhatian baru di industri pangan global.

Pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah nangka bisa menjadi peluang usaha, tetapi seberapa jauh pelaku UMKM mampu melihat potensi nilai tambah dari komoditas yang selama ini dianggap sederhana.

Jika artikel ini bermanfaat, mohon berkenan bantu kami sebarkan pengetahuan dengan membagikan tautan artikelnya, ya!

Kamu juga bisa mendukung keberlanjutan konten edukatif di website kami melalui fitur dukung UKM Indonesia dibawah artikel ini.

Bagi Sahabat Wirausaha yang ingin bergabung dengan Komunitas UMKM di bawah naungan kami di UKMIndonesia.id - yuk gabung dan daftar jadi anggota komunitas melalui ukmindonesia.id/registrasi. Berkomunitas bisa bantu kita lebih siap untuk naik kelas!



Daftar Referensi: 

  • Badan Pusat Statistik. (2024). Produksi Tanaman Buah dan Sayuran Tahunan Menurut Jenis Tanaman.
    https://www.bps.go.id/id/statistics-table/3/WXpSVU5uUTBOSEl5WVhGQmVESTVSVnBSVlhWeVVUMDkjMw==/produksi-tanaman-buah---buahan-dan-sayuran-tahunan-menurut-jenis-tanaman--2024.html
  • Good Food Institute. (2023). State of the Global Plant-Based Food Industry. https://gfi.org/resource/state-of-the-industry-report/
  • BBC Good Food. Jackfruit: what it is and how to cook it. https://www.bbcgoodfood.com/howto/guide/jackfruit-what-it-and-how-cook-it
  • The Guardian. (2019). Jackfruit: the 'stinking fruit' that's the new star of vegan cooking. https://www.theguardian.com/world/2019/feb/16/jackfruit-stinking-vegan-food-trend-star
Dukung UKM Indonesia

Terima kasih telah membaca. Jika konten ini bermanfaat, dukung kami untuk terus menyajikan informasi berkualitas bagi UMKM Indonesia.