Uraa Uraaa! Sahabat Wirausaha tentu pernah mendengar teriakan Putin yang satu ini di salah satu video yang viral di sosial media beberapa waktu lalu sejak terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina. Kata ura dilafalkan untuk memberi semangat pada tentara Rusia yang sedang berperang.

Eits, di artikel kali ini kita tidak akan membahas tentang perang antara Rusia dengan Ukraina ya Sahabat. KIta akan fokus membahas Rusia dan Indonesia, khususnya terkait aktivitas ekspor kita ke negara pecahan Uni Soviet tersebut.

Baca Juga: Harga Patokan Ekspor

Gambar 1. Teriakan Uraa dari Prajurit Rusia yang Berperang


Sumber: Pikiran Rakyat

Secara umum, kondisi perang akan mengganggu stabilitas keamanan sebuah negara, yang pada akhirnya dapat berefek pada makro ekonomi. Sayangnya, dampak negatif tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat dalam perang tersebut, namun juga pada negara-negara lainnya, salah satunya dalam aktivitas ekonomi antar negara.

Baca Juga: Embargo

Ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 diyakini dapat mengganggu arus perdagangan Indonesia dengan kedua negara tersebut. Eskalasi yang memanas dapat menghambat ekspor Indonesia ke Rusia dan Ukraina.

Sebelum terjadi perang, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia ke Rusia mencapai USD 176,5 juta atau setara dengan Rp 2,58 triliun per Januari 2022. Angka tersebut tumbuh hingga 58,69 persen dibandingkan nilai ekspor per Desember 2021 yang hanya USD 111,2 juta atau setara dengan Rp 1,6 triliun.

Gambar 2. Perang Rusia dengan Ukraina


Sumber: Okezone

Meskipun lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pencapaian ekspor di Januari 2022 tersebut menurun signifikan jika dibandingkan dengan Desember 2021. Tercatat, ekspor Indonesia ke Ukraina mencapai USD 33,1 juta atau setara dengan Rp 484 miliar pada Desember 2021. Namun, nilai ekspor pada Januari 2022 hanya USD 5,4 juta atau setara dengan Rp 79 miliar.

Baca Juga: Drone

Sahabat Wirausaha jangan berkecil hati ya melihat data ini. Meskipun menurun akibat terjadi perang, bukan berarti kita tidak punya peluang sama sekali bukan? Tetap masih ada peluang yang dapat Sahabat Wirausaha raih disana. Peluang ekspor apa saja yang dapat Sahabat Wirausaha optimalkan? Yuk kita simak ulasannya berikut ini.


Mengenal Negara Rusia Lebih Dekat

Seperti yang Sahabat Wirausaha ketahui, Rusia adalah negara terbesar di dunia yang membentang luas di dua benua yaitu benua Asia (bagian Utara Asia) dan benua Eropa (bagian Timur Eropa).

Negara yang memiliki nama lengkap Federasi Rusia (Russian Federation) ini memiliki luas wilayah sebesar 17.098.242 km2 atau sekitar 9 kali lebih besar dari wilayah negara kita, Republik Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika Rusia memiliki penduduk sebanyak 142.320.790 jiwa.

Dilansir dari Ilmu Pengetahuan Umum, secara astronomis, Rusia berada diantara 41° - 82° LU dan 19° - 169° BB. Secara geografis, Rusia yang berada di dua benua ini berbatasan dengan Finlandia, Lithuania, Ukraina, dan Belarusia di sebelah Barat; sedangkan di sebelah Timurnya adalah Laut Pasifik.

Di sebelah Selatan, Rusia berbatasan dengan China (Tiongkok), Korea Utara, dan Kazakhstan; sedangkan di sebelah Utara Rusia adalah Samudera Arktik. Rusia juga berbatasan dengan negara Georgia, Azerbaijan, Laut Kaspia, dan Pegunungan Kaukasus di sebelah Barat Daya.

Baca Juga: Market Growth

Gambar 2. Rusia dalam Peta Dunia


Sumber: Ilmu Pengetahuan Umum

Di bidang Perekonomian, Pendapatan Domestik Bruto Nominal atau PDB Rusia adalah sebesar USD 3.875 triliun atau setara dengan Rp 59.669 triliun. Besar sekali ya Sahabat? Sehingga tidak heran, PDB Rusia ini berada di urutan ke tujuh terbesar di dunia. Adapun Pendapatan perkapita penduduk Rusia adalah sekitar USD 26.500 atau setara dengan Rp 387 juta di tahun 2020.


Perdagangan Indonesia dan Rusia

Terkait dengan perang Rusia dan Ukraina yang telah kita bahas sebelumnya, Indonesia juga kembali mencatat penurunan ekspor barang ke Rusia pada Maret 2022, tepat setelah perang Rusia dengan Ukraina meletus pada penghujung bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor barang Indonesia ke Rusia pada Maret 2022 sebesar USD 67,5 juta atau setara dengan Rp 987 miliar, turun 48,66 persen dibanding setahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Pada bulan Maret 2022 tersebut, ekspor terbesar Indonesia ke Rusia mencakup lemak dan minyak hewan atau minyak nabati, karet dan barang dari karet, serta mesin atau peralatan listrik.

Sementara itu, nilai barang yang diimpor Indonesia dari Rusia meningkat nyaris 140 persen (yoy) ke USD 257 juta atau setara dengan 3.7 triliun pada Maret 2022. Produk utama yang diimpor dari negara tersebut adalah besi dan baja, pupuk, dan bahan bakar mineral. Dengan demikian, Indonesia membukukan defisit neraca perdagangan barang dengan Rusia sebesar US$189,5 juta pada bulan Maret 2022.

Jika diakumulasikan, selama periode Januari hingga Maret 2022, perdagangan Indonesia dengan Rusia mengalami defisit sebesar USD 204,6 juta atau setara dengan 2.99 triliun. Padahal, di periode yang sama di tahun 2021, Indonesia membukukan surplus sebesar USD 42,2 juta atau setara dengan 617 miliar.

Baca Juga: Surat Keterangan Ekspor Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik

Gambar 3. Tingkat Pertumbuhan Tahunan Perdagangan Indonesia dengan Rusia (Januari hingga Maret 2022)


Sumber: Katadata


Komoditas Ekspor Indonesia ke Rusia

Berikut adalah ragam komoditas yang banyak diekspor dari Indonesia ke negara asal permainan tetris tersebut, antara lain lemak dan minyak hewan, karet dan barang dari karet, serta mesin dan peralatan listrik. Selain ragam komoditas tersebut, diketahui adanya komoditas lain, yaitu produk kecantikan dan kesehatan, produk makanan, alas kaki serta pakaian

Gambar 4. Perbandingan Volume Komoditas Ekspor Indonesia ke Rusia Tahun 2021 dengan Januari - Februari 2022


Sumber: CBNC Indonesia

1. Lemak dan Minyak Hewani

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, kinerja ekspor barang Indonesia ke Rusia anjlok selama bulan Maret 2022 akibat perang yang masih berlangsung antar kedua negara. Penurunan yang terjadi bahkan masuk dalam lima besar negara tujuan ekspor yang mengalami penurunan terdalam.

Bagaimana tidak Sahabat Wirausaha, nilai ekspor ke Rusia turun sebesar USD 88,1 juta atau setara dengan 1.2 triliun. Penurunan itu merupakan yang terbesar dan disebabkan oleh turunnya ekspor minyak hewan nabati kode HS 15 dan mesin dan peralatan elektrik HS 85.

Gambar 5. NIlai Ekspor Lemak dan Minyak Hewani Tahun 2020 hingga 2021


Sumber: CEIC

Secara umum, nilai ekspor lemak dan minyak hewani ke Rusia cenderung fluktuatif. Hal ini dapat terlihat dalam gambar berikut. Salah satu wilayah di Indonesia yang berkontribusi aktif pada ekspor lemak dan minyak hewani adalah Sumatera Utara. Di tahun 2021, kinerja ekspor Sumatera Utara mengalami peningkatan hampir 45 persen.

Baca Juga: Mamaibu Chicken Wings and Sauce, Bersiap Terbang Menyapa Dunia

Bahkan, dari Januari hingga Juli 2021, devisa ekspor Sumatera Utara mencapai USD 6,377 miliar atau setara dengan Rp 93 triliun, dimana angka ini meningkat 44,99 persen dibanding posisi yang sama di tahun 2020 sebesar USD 4,398 miliar atau setara dengan Rp 64 triliun. Angka ini merupakan kontribusi dari komoditas lemak dan minyak hewan yang naik sebesar USD 1.073,25 juta atau setara Rp 15,6 triliun. Peningkatan ini sebesar 66,2 persen.

2. Karet

Komoditas karet dan barang dari karet termasuk komoditas yang mengalami penurunan nilai ekspor ke Rusia akibat konflik dengan Ukraina. Namun demikian, dampaknya masih terbatas ke industri dalam negeri. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor karet dan barang dari karet pada Maret 2022 hanya sebesar USD 600 ribu atau setara dengan Rp 8.7 miliar, nilai ini turun dari bulan sebelumnya USD 7,3 juta atau setara dengan Rp 106 miliar.

Adapun ekspor komoditas tersebut selama kuartal I di tahun 2022 mencapai USD 15,1 juta atau setara dengan Rp 220 miliar. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pane, mengatakan penurunan ekspor ke Rusia berdampak terbatas pada utilitas kapasitas produksi industri yang kini berada di angka 80 persen dari kapasitas terpasang 241 juta unit.

Namun demikian, fenomena ini tidak terjadi pada wilayah Sumatera Utara, sebagai salah satu wilayah yang berkontribusi aktif pada ekspor komoditas karet. Karet (Hevea brasiliensis), merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki posisi cukup penting di Sumatera Utara. Hal ini dikarenakan komoditi karet merupakan sumber penerimaan daerah dari ekspor sehingga memiliki prospek yang cerah.

Baca Juga: Rahida Cookies, Menjadi Binaan Bank Indonesia Hingga Ikut Trade Expo Internasional

Upaya peningkatan produktivitas usaha tani karet terus dilakukan terutama dalam bidang teknologi budidayanya. Adanya issue harga karet dunia yang masih belum memberikan kabar gembira bagi petani mengakibatkan petani mulai mengganti tanaman karet dengan tanaman lain yang dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih baik.

Namun demikian masih ada petani yang optimis karena untuk beberapa industri penggunaan karet alam merupakan bahan baku penting yang tidak dapat digantikan dengan karet sintetis misalnya industri otomotif dan militer.

Gambar 6. Produksi Komoditi Karet Perkebunan Sumatera Utara Tahun 2015 hingga 2018


Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara

Terkait dengan ekspor komoditi karet ke Rusia, Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Poltak Sitanggang, mengatakan bahwa situasi geopolitik Ukraina dan Rusia belakangan ini yang berujung pada kebijakan embargo perdagangan terhadap Rusia berpotensi menurunkan nilai ekspor karet dengan negara tujuan Rusia.

Namun, kondisi ini tidak begitu mempengaruhi kinerja ekspor karet asal Sumatera Utara. Rusia diketahui memang menjadi pangsa untuk ekspor karet Sumatera Utara, namun porsinya hanya di bawah 1 persen dari total nilai ekspor. Adapun jika terjadi penurunan kinerja ekspor karet saat ini cenderung dipengaruhi sikap kehati-hatian pada investor, baik karena kondisi geopolitik global maupun akibat persoalan shipment atau perkapalan.

Gambar 7. Terhambatnya Perkapalan ke Rusia


Sumber: CNBC

Pada bulan Januari tahun 2022 lalu, atau sebulan sebelum operasi militer spesial ke Ukraina meluncur, Rusia merupakan urutan ke 18 dari total 34 negara tujuan ekspor karet asal Sumatera Utara. Saat itu, volume karet yang diekspor berjumlah 374 ton, sedangkan pada Februari 2022 turun menjadi 120 ton. Akibat penurunan volume ekspor tersebut, posisi negara Rusia ini sontak anjlok ke urutan ke 22 dari 30 negara tujuan ekspor bulan Februari lalu.

Ekspor komoditas karet dari Sumatera Utara menurun pada bulan Februari 2022 dibanding bulan sebelumnya. Pada Januari 2022, volume ekspor tercatat 32.608 ton, sedangkan pada Februari 2022 volumenya turun menjadi 28.698 ton atau berkurang 11,99 persen. Pada dasarnya, tren penurunan ini sudah terlihat pada awal tahun. Pengapalan Januari 2022 tersebut juga menurun dibanding Desember 2021, dimana penurunannya menyentuh 17,7 persen.

3. Produk Kecantikan

PT. Mustika Ratu, perusahaan nasional yang bergerak dalam industri pembuatan jamu, kosmetik dan bahan-bahan untuk perawatan kecantikan, terus meningkatkan ekspansi ekspor produknya ke berbagai mancanegara, termasuk pasar Timur Tengah dan Rusia di dalamnya.

Hal ini tidak terlepas dari pasar Timur Tengah yang menaruh perhatian kuat terhadap ragam produk halal, dimana hal ini sangat cocok dengan produk Mustika Ratu yang telah memiliki sertifikasi halal dan juga terbuat dari bahan-bahan alami atau back to nature. Terkait dengan Rusia, Mustika Ratu kembali berhasil memasuki dan memasarkan produk Slimming Tea, Personal Care, dan Herbal Supplement.

Baca Juga: Potensi Ekspor Bahan Alami Kosmetik

Gambar 8. Booth Mustika Ratu di Kancah Internasional


Sumber: Tribunnews

Sebagai informasi, nilai pasar ekspor produk kosmetik di dunia pada tahun 2020 sangat fantastis, mencapai USD 140 miliar atau setara dengan Rp 2.045 triliun. Negara eksportir utamanya saat ini masih dikuasai Perancis, Amerika Serikat, dan Jerman. Sedangkan nilai ekspor Indonesia sendiri baru mencapai USD 784 juta atau setara dengan Rp 11,4 triliun, atau 0,56 persen dari total nilai pasar ekspor.

Produk yang diekspor meliputi produk Essential oil & toiletries, sabun, produk lulur kulit dan wajah, serta parfum, dan cairan pewangi dengan negara tujuan ekspor Indonesia adalah ke negara-negara Asia Tenggara, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Spanyol, Timur Tengah, Jepang, dan Tiongkok. Harapannya, Rusia dapat menjadi negara tujuan strategis untuk produk kosmetik kedepannya.

Baca Juga: Potensi Ekspor Minyak Atsiri Indonesia

Sahabat Wirausaha, itulah tadi ragam komoditas yang dibutuhkan Rusia dari Indonesia. Apakah Sahabat Wirausaha memiliki usaha yang berkaitan dengan komoditas-komoditas tersebut? Jika iya, maka Sahabat Wirausaha memiliki peluang yang besar yang harus dioptimalkan untuk menambah nilai ekspor Indonesia ke Rusia. Selamat bertumbuh ya!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Utara. Profil Komoditi Tanaman Tahunan Perkebunan Karet di Provinsi Sumatera Utara.
  2. Ilmu Pengetahuan Umum. Profil Negara Rusia.
  3. Katadata. Ekspor RI ke Rusia Turun, tapi Impornya Naik pada Maret 2022.