UKM Indonesia

Membedah Platform E-Commerce untuk UKM Ekspor



Sahabat wirausaha, selain dalam pasar nasional, dalam berbisnis (khususnya UKM) tentunya berharap agar produknya bisa tembus ke pasar internasional. Saat ini, untuk memasarkan produk ke luar negeri juga cenderung semakin mudah, tidak harus langsung dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan sahabat bisa memasarkan serta menjual produk secara ritel.

Agar dapat mencapai pasar global, beberapa penyedia layanan e-commerce atau “perdagangan elektronik” bisa menjadi gerbang untuk pemasaran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia. Layanan tersebut bisa memudahkan pelaku usaha untuk terhubung ke pembeli dari negara lain.

Nah, sebelum mewujudkan skala pasar global atau melakukan kegiatan ekspor, sahabat perlu mempelajari beberapa hal. Dalam konteks menggunakan e-commerce, terlebih dahulu kita juga perlu tahu bagaimana seluk-beluk e-commerce untuk berbisnis, peran e-commerce dalam memajukan produk lokal Indonesia, serta beberapa layanan e-commerce yang bisa sahabat gunakan dalam kegiatan UKM ekspor. Jadi, dengan platform e-commerce yang tepat, maka produk sahabat bisa tembus ke pasar global tentunya. Simak yuk pembahasan berikut ini!


Pengaruh Platform E-Commerce dalam digitalisasi di Indonesia

Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa rencananya bisnis perdagangan – elektronik (atau bisa disingkat dagang-el) akan diatur selayaknya perdagangan konvensional. Sistem dagang-el tersebut akan segera diatur karena berhubungan dengan perdagangan melalui sistem elektronik atau PMSE. Terkait dengan hal itu, pelaku usaha yang telah mengadopsi platform digital pun diharapkan agar terus perkembangan regulasi agar tak menghadapi kendala.

Baca juga: Pola Struktur Organisasi bagi UMKM

Rencana pemerintah tersebut disampaikan dalam gelar acara forum bisnis “Trade Expo Indonesia-Digital Edition 2021.” Dalam kegiatan ekspor [melalui PMSE], pelaku usaha dapat memanfaatkan lokapasar atau marketplace yang sudah mempunyai izin cross-border atau transaksi antar-wilayah. Tidak lupa, dalam memasuki dunia pasar ekspor sebaiknya pelaku usaha memperhatikan regulasi dan persyaratan di negara tujuan ekspor.

Pada kesempatan yang sama, perdagangan akan terus mendorong pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia melalui platform digital. Posisi ekonomi digital di Indonesia cukup tinggi, tetapi untuk tingkat per kapitanya masih di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand. Selain itu, perusahaan Unicorn dari Indonesia juga belum dapat menembus seluruh negara ASEAN.

Kementrian Perdagangan mencatat bahwa peran ekonomi digital terhadap ekonomi Indonesia pada tahun 2020 mencapai 4 persen. Kontribusi tersebut diharapkan agar meningkat menjadi 18 persen pada 2030. Maka, Indonesia perlu mempersiapkan pengembangan teknologi gelombang baru (second wave) ekonomi digital untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga: Cara UMKM Menetapkan Target Usaha

Misalnya, dengan memperkuat jaringan internet cepat 5G serta transmisi data melalui jaringan internet tanpa bantuan manusia atau perangkat komputer. Selain itu, Indonesia juga membutuhkan sistem penyimpan data transaksi yang jauh lebih aman dan transparan. Kecerdasan buatan juga sangat diperlukan agar dapat diterapkan pada suatu sistem yang diatur secara ilmiah. Selain itu, metode penyampaian berbagai layanan melalui internet juga perlu dipersiapkan dalam second wave tersebut.

Berdasarkan data dari salah satu perusahaan keuangan dunia J.P Morgan, pada tahun 2020 nilai dagang-el Indonesia meningkat dengan cepat. Peningkatan tersebut diperkirakan dengan pertumbuhan tahunan 2021 mencapai Rp337 triliun. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan China (11,2 persen) dan Amerika Serikat (10,5 persen). Penjualan melalui dagang-el ini memang memiliki berbagai macam potensi yang dapat terus dikembangkan, khususnya di Indonesia.

Contohnya, memotong rantai distribusi yang membuat harga tinggi, menjadi sarana promosi dan berdagang bagi UKM dan pedagang, memberikan kemudahan transaksi bagi konsumen, serta menjadi solusi mengatasi dampak ekonomi di masa pandemi Covid-19. Jadi, sebenarnya potensi e-commerce sangat tinggi untuk dapat dimanfaatkan di Indonesia di era digital seperti saat ini.


Fokus platform e-commerce dalam pemasaran produk lokal

Menurut Indonesian E-commerce Association (idEA), kemampuan dan kesiapan dari kegiatan dagang-el sebenarnya sudah cukup untuk merambah pasar ekspor. Tetapi, penguatan pasar lokal dianggap jauh lebih penting. Seperti yang dilakukan idEA bersama seluruh member dan Kementerian Perdagangan lewat Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia sejak tahun 2020 silam.

Salah satu fokus industri dagang-el saat ini adalah terus mendorong industri dalam negeri, termasuk UMKM, untuk dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas mereka sehingga dapat bersaing dengan pengusaha-pengusaha dari negara lain. Misalnya, dengan terlebih dahulu memperkuat pasar dalam negeri serta meningkatkan kualitas dan kapasitas UMKM. Maka, pemasaran produk lokal akan lebih meningkat serta peluang untuk masuk ke pasar internasional akan semakin luas.

Baca Juga: Ragam Bentuk Pelestarian Lingkungan Untuk UMKM

Dengan demikian, pelaku usaha tidak perlu lagi khawatir jika ada produk negara lain masuk ke Indonesia. Selain itu, dengan tidak melakukan ekspansi ke luar negeri, industri dagang-el Indonesia memang akan terkesan terlambat dibandingkan dengan kompetitor dari negara tetangga.


Persiapan UKM menuju pasar Internasional

Ada banyak aspek yang harus dipersiapkan jika perusahaan dagang-el Indonesia ingin memperluas pasar di luar negeri. Misalnya, membentuk pola organisasi yang bisa menjalankan bisnis di negara lain. Kemudian, memahami kultur, medan lapangan, serta masukan dari sisi pangsa pasar dan pelanggan di negara yang di sasar. Semua proses tersebut membutuhkan tim lokal yang sangat kuat. Maka dari itu, diperlukan dana investasi yang tidak sedikit untuk beberapa persiapan tersebut.

Rencana ekspansi bisa juga dilihat dari perspektif pangsa pasar ekspor, yang notabene ikut membantu para produsen Indonesia. Dari sisi perusahaan dagang-el, Perusahaan E-commerce Tokopedia misalnya. Tokopedia memilih untuk tetap fokus merambah pasar lokal, di tengah upaya Shopee sebagai salah satu pesaing utama yang cukup mendominasi pasar di luar negeri.

Baca Juga: Tips Memulai Bisnis Dengan Modal Minim

Tokopedia cenderung masih fokus dengan pasar yang ada di Indonesia daripada ekspansi ke pasar luar negeri. Hal itu diklaim sebagai upaya Tokopedia dalam menggerakkan perekonomian dalam negeri. Hal ini ingin dicapai dengan terus memberikan dukungan untuk para pelaku usaha di Indonesia khususnya UMKM lokal agar dapat mengembangkan usahanya, walaupun di tengah pandemi.

Perluasan pasar ke ke luar negeri menjadi kurang relevan bagi Tokopedia karena menurut sejumlah data pasar lokal masih sangat menjanjikan untuk dirambah. Terlebih, saat ini perusahaan tengah fokus menghubungkan wilayah-wilayah yang selama ini sulit terjangkau akses dagang-el.

Upaya tersebut dapat memungkinkan masyarakat untuk memiliki kesempatan sama dalam menemukan berbagai produk kebutuhannya dengan mudah. Bahkan, kesempatan tersebut dapat dikembangkan hingga menciptakan peluang usaha, termasuk di tengah pandemi.

Pilihan untuk tetap fokus di pasar lokal didukung sejumlah data yang menunjukkan tren positif dari para mitra. Menurut riset yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada 2020, 7 dari 10 pelaku usaha di Tokopedia mengalami kenaikan volume penjualan dengan median sebesar 133 persen.

Baca Juga: Pengendalian Produksi

Riset tersebut juga mengungkapkan tiga provinsi dengan peningkatan penjualan pelaku usaha tertinggi di Tokopedia, yaitu NTB (144,6 persen), Sulawesi Tengah (73,4 persen) dan Sulawesi Selatan (73,3 persen). Sementara itu, tiga provinsi dengan peningkatan jumlah pelaku usaha tertinggi di Tokopedia selama pandemi adalah Bali (66,2 persen), Yogyakarta (42,2 persen) dan DKI Jakarta (28,3 persen).

Alih-alih ekspansi ke luar negeri, ke depannya pihak Tokopedia akan fokus mengedepankan kolaborasi dengan para mitra strategis di tingkat lokal demi membantu mendorong pemulihan ekonomi Indonesia yang saat ini terdampak pandemi. Namun, tidak menutup kemungkinan nantinya Tokopedia juga akan membuat produk lokal tersebut terlihat berjaya di pasar ekspor.


Tantangan Ekspansi Bisnis Internasional Bagi Pelaku UKM

Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), ekspansi perusahaan dagang-el Indonesia ke luar negeri merupakan sebuah langkah yang tepat untuk memperbesar jangkauan pasar. Menurutnya, ekspansi ke India merupakan hal yang mudah bagi Shopee tentu saja. Mereka juga berharap Tokopedia, Bukalapak, dan perusahaan dagang-el lokal lainnya dapat melakukan hal yang serupa.

Baca Juga: Pengenalan Bentuk SOP Yang Penting Diketahui Bagi UMKM

Sebenarnya, perusahaan dagang-el lokal, termasuk UKM dapat bersaing dengan Shopee di pasar ASEAN. Hal ini dikarenakan cakupan pasar dan kemampuan pemain Indonesia telah terbukti mampu bersaing di pasar lokal walaupun dengan persaingan yang ketat. Ekspansi e-commerce lokal akan berdampak positif bagi para mitra dan pelaku usaha di Indonesia. Para pelaku usaha di Indonesia diharapkan mampu menjual produknya ke luar negeri dengan adanya ekspansi pasar tersebut.

Tak dapat dipungkiri bahwa tidak mudah bagi pelaku dagang-el dan produsen barang dalam negeri untuk ekspansi ke luar negeri. Hal itu terkait dengan daya saing di pasar luar negeri. Produsen lokal masih kalah bersaing dengan produk dari negara lain. Oleh karena itu, dagang-el lokal juga belum terlalu kuat. Masih ada masalah terkait SDM, proses ekspor oleh UMKM belum mudah karena membutuhkan eksportir. Ini yang jadi masalah juga. Tidak semudah mengirim barang ke daerah domestik.

Bagaimanapun, produk lokal memiliki keunggulannya sendiri yaitu keunikannya, terutama barang kerajinan tangan dan makanan. Indonesia kaya akan kerajinan tangan dan kulinernya, dua hal tersebut merupakan sektor kreatif terbesar nasional, yang sebenarnya bisa diandalkan untuk diekspor via perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).

Baca Juga: Mengidentifikasi Peta Persaingan Supaya Bisnis Tetap Unggul

Potensi dari ekspor tersebut sebaiknya berawal dari produktivitas UKM yang tentunya akan meningkatkan pendapatan terhadap UKM. Termasuk efisiensi biaya transaksi penjualan dari produsen, sampai kepada konsumen di luar negeri.

Saat ini, peran pemerintah kian berubah, khususnya dalam sektor perekonomian. Dari yang awalnya hanya sekedar regulator, harus berubah menjadi fasilitator dan akselerator. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi produk-produk UKM agar mudah diperdagangkan. Ke depannya, pertumbuhan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari dua hal. Pertama, meningkatkan ekspor dan kedua, juga meningkatkan investasi, baik yang dilakukan investor di dalam maupun luar negeri.


Strategi Ekspor UKM: Langkah dari Platform Alibaba

Alibaba, salah satu raksasa e-commerce di China sudah lama menyiapkan strategi menembus pasar ekspor. Dalam perjalanan awalnya, Alibaba menyusun dua platform, yakni Taobao dan Alibaba. Dua platform ini memiliki fungsi yang berbeda. Taobao menjual produk secara grosir atau business to consumer (B2C) langsung dari produsen atau supplier. Sementara itu, Alibaba menjual produk secara ritel atau consumer to consumer (C2C).

Supaya saling melengkapi satu sama lain, Taobao mengumpulkan para penjual dalam satu marketplace atau lokapasar, kemudian Alibaba yang jadi distributor akhir. Setelah jumlah produk mencapai skala ekonomi tertentu, Alibaba melancarkan strategi akuisisi e-commerce lokal di negara tujuan ekspor. Start-up lokal e-commerce yang baru berkembang di Indonesia tak luput dari pengamatan Alibaba, Lazada dan Tokopedia misalnya.

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

Pada tahun 2017 lalu, Lazada dan Tokopedia menerima dana suntikan modal sebesar Rp. 28 triliun dari Alibaba. Dua e-commerce lokal ini kemudian mulai menjual produk-produk dari Alibaba. Tak heran apabila lebih dari 93 persen barang yang dijual di e-commerce tersebut adalah barang impor. Ya, hal ini dikarenakan saat tahun 2017 Tokopedia masih aktif menerima suntikan dana tersebut, sebelum pada akhirnya pada saat pandemi mulai fokus pada produk lokal.

Ternyata, langkah Alibaba ini membuahkan hasil. Saat saham Alibaba diperdagangkan di bursa Wall Street nilai kapitalisasi pasarnya menembus US$479,4 miliar, lebih tinggi dari produsen pesawat terbang Boeing yang hanya sebesar US$210 miliar. Lain lagi soal nilai transaksi Alibaba yang sepanjang 2016 mencapai US$478 miliar. Bahkan, penjualan Alibaba selama satu hari tembus hingga US$25,3 miliar atau setara Rp341,5 miliar. Angka yang sangat fantastis, bukan?

Melalui Alibaba, supplier skala kecil atau UMKM di China bisa menjual produknya hingga ke Indonesia dengan harga yang sangat terjangkau. Dari pernyataan tersebut, maka sebenarnya Indonesia juga bisa melakukannya di negara-negara tetangga misalnya. Penduduk yang cukup beragam serta banyaknya pelaku UKM di Indonesia merupakan salah satu faktor pendukung untuk dapat mengikuti langkah sukses dari Alibaba tersebut.

Baca Juga: Tips Melakukan Riset Pasar Bagi UMKM


Strategi UKM Ekspor: Langkah dari Indonesia

Ada beberapa strategi yang bisa ditiru dari Alibaba. Pertama, pemerintah dan pelaku UKM perlu bersinergi untuk membentuk sebuah agregator atau platform yang berfungsi sebagai “wadah”. Nantinya, wadah ini akan menjadi tempat bagi produk dari UMKM maupun industri. Agregator dalam Alibaba sendiri adalah Taobao marketplace. Setelah barang terkumpul dan mencapai skala ekonomi, langkah berikutnya adalah bekerja sama dengan perusahaan e-commerce yang ada di Indonesia.

Kedua, adalah terkait dengan cara menembus pasar ekspor. Pasar di ASEAN masih terbuka lebar, sayangnya Indonesia belum memiliki e-commerce yang bisa memasarkan produknya di negara-negara tersebut. Di sini, e-commerce lokal Indonesia memerlukan langkah untuk “mengakuisisi” atau mendirikan e-commerce dalam skala Internasional, misalnya di Vietnam, Malaysia atau Thailand.

Baca Juga: Membedah Penggunaan Analisis SWOT pada UKM

Memang, untuk mengakuisisi rintisan e-commerce memerlukan biaya yang tidak sedikit. Maka dari itu, diperlukan peran perbankan nasional dibutuhkan sebagai modal pembiayaan. Kemudian, regulasi bisa dibuat agar bank tidak segan dalam menyalurkan kreditnya ke perusahaan e-commerce yang ingin melakukan ekspansi ke luar negeri. Jika dua langkah strategi tersebut berhasil, maka harapan terkait UKM ekspor dapat direalisasikan secara optimal.


Contoh Platform E-Commerce yang bisa diberdayakan untuk UKM Ekspor

Setelah pembahasan terkait platform e-commerce dan kaitannya untuk UKM ekspor yang sudah dijelaskan di atas, kini saatnya sahabat wirausaha perlu mengetahui beberapa contoh platformnya yang bisa diberdayakan. Beberapa platform tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bukalapak

Bukalapak menjadi platform pertama yang bisa dipilih sebagai salah satu pilihan dalam UKM ekspor. Fitur terbaru BukaGlobal dari Bukalapak memungkinkan pembeli dari luar Indonesia untuk belanja di Bukalapak. Bekerjasama dengan Janio, fitur BukaGlobal tersedia untuk jasa pengiriman ke negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Juga negara Asia lainnya seperti Hong Kong dan Taiwan.

Baca Juga: Pentingnya Memiliki Visi Dalam Menentukan Arah Pengembangan Usaha

Pembayaran transaksi BukaGlobal menggunakan kurs rupiah. Namun, sayangnya jasa pengiriman BukaGlobal hanya berlaku satu arah dari Indonesia ke luar negeri (ekspor), sehingga untuk pengiriman dari luar ke dalam negeri (impor) belum didukung oleh BukaGlobal.

2. Shopee

Selain Bukalapak, Shopee juga menyediakan layanan untuk ekspor berupa Program Ekspor Shopee. Program Ekspor ini memungkinkan seller atau penjual untuk memasarkan produknya ke Pembeli di luar negeri. Selain itu, program ini juga mendukung untuk perluasan bisnis dengan cara yang mudah tanpa dikenakan biaya apa pun. Sementara ini, Program Ekspor Shopee hanya dipasarkan di Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Brazil.

Program ini juga mendukung pelatihan untuk para pelaku UKM secara offline. Shopee membuka Kampus UMKM Shopee Ekspor untuk menyediakan fasilitas bagi para pelaku UMKM. Tujuannya adalah supaya para pelaku UKM dapat mengembangkan bisnisnya dengan memulai berjualan online. Saat ini, terdapat 2 lokasi Kampus UMKM Shopee Ekspor yaitu di Solo dan Bandung.

Baca Juga: Ragam Jenis Endorser Dalam Pemasaran Digital

3. Madeinindonesia.com (MIND)

Madeinindonesia.com (atau disingkat MIND) dirancang untuk menjadi solusi 'Satu Pintu' untuk Perdagangan Digital Indonesia. MIND memberdayakan perusahaan Indonesia dalam Ekspor Digital B2B, dengan menyederhanakan sumber dan pengadaan Internasional dari dan di dalam Indonesia.

Dalam memperkuat layanan logistik dan pergudangan secara menyeluruh, MIND bekerja sama dengan perusahaan rintisan logistik shipper dari Indonesia. Shipper akan membantu perusahaan untuk menyediakan layanan fulfillment atau pemenuhan pesanan. Kemudian, shipper menyediakan layanan jasa digital secara end-to-end untuk melakukan ekspor dari Indonesia.

Baca Juga: Memilih Berbisnis Lewat E-commerce di Era Digital

4. Alibaba

Seperti pada pembahasan sebelumnya, Alibaba sudah lama menyiapkan strategi menembus pasar ekspor, tak terkecuali di Indonesia. Produk lokal Indonesia juga sudah banyak yang terjun dalam perusahaan e-commerce milik Jack Ma ini.

Bagi sahabat wirausaha yang ingin memulai sebagai pelanggan gratis, cukup mendaftarkan diri ke Alibaba.com dan membuat profil perusahaan. Setelah itu, sahabat bisa langsung mengunggah foto-foto dan keterangan produk yang akan dijual. Alibaba juga menyediakan fitur premium yang dapat digunakan sebagai tambahan, jika sahabat mendaftar sebagai gold supplier (pelanggan premium).

5. Amazon

Selain Alibaba, Amazon juga terkenal sebagai pasar ekspor untuk brand lokal Indonesia. Untuk menjual produk di Amazon, terdapat 2 pilihan yang bisa dipilih, yaitu "Individual Sellers" atau "Professional Sellers."

Baca Juga: Membangun Brand Positioning Agar Bisnis Berkembang

Individual sellers atau penjual perorangan biasanya dibebaskan dari biaya penjualan (biaya pasang iklan), namun pihak Amazon tetap akan mengambil komisi dari setiap barang yang terjual. Sedangkan untuk professional sellers atau penjual profesional biasanya digunakan oleh pelaku bisnis yang sudah memiliki toko sendiri dan memiliki banyak tim.


Kesimpulan

Potensi ekspor di Indonesia, yang selama ini didominasi oleh komoditas olahan primer atau bahan baku, kini akan bergeser ke ekspor barang jadi yang bernilai tambah. Strategi ini akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur yang meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas.

Tentunya, strategi besar mendongkrak ekspor melalui e-commerce ini juga memerlukan kesiapan dari berbagai pihak, khususnya pelaku usaha mikro atau UKM. Skala produksi dan kualitas barang menjadi kata kuncinya dalam persiapan untuk mencapai pasar Internasional.

Baca Juga: 10 Tipe Inovasi Bisnis yang Perlu Dilakukan

Nah, sahabat wirausaha juga perlu mengetahui bahwa beberapa produk mungkin perlu penyesuaian pada saat akan diekspor dengan platform e-commerce. Hal ini dikarenakan setiap e-commerce memiliki ketentuannya masing-masing, sehingga sahabat bisa memahaminya terlebih dahulu. Semoga produk sahabat bisa segera tembus pasar global, ya!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi: BisnisIndonesia, CNNIndonesia, Digination.id, JurnalBisnis,

Sukai postingan ini:
KOMENTAR
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: