UKM Indonesia

​Zie Batik Semarang


https://lh3.googleusercontent.com/uHihoe39O6TI5oUyQfnQscPzyaQQFpwdepU3q3JEGF3G8bc4oNmTkATCnNtAcJTgumVAzXns=w1080-h608-p-no-v0

Sumber gambar : ziebatiksemarang.com

Inspirasi batik dari Indonesia seakan tak penah ada habisnya. Masing-masing daerah memiliki cap dan motif sendiri yang membanggakan para penduduknya. Tak terkecuali Kota Semarang. Meski sudah lama mati suri, namun usaha sepasang suami-istri yang antusias berhasil menghidupkan kembali kegiatan membatik di kota tersebut. Keduanya mendirikan Zie Batik Semarang, sebuah bisnis yang membuat batik dengan pewarna alami dan ramah lingkungan.

Hanya dalam waktu sebelas tahun, Zie Batik Semarang berhasil membina para pengrajin batik, menghidupkan motif-motif khas Semarang, dan menembus pasar ekspor. Bagaimana mereka bisa melakukannya?

Membangkitkan Batik Kota Semarang Dengan Motif Ikonik

Di tahun 2005, pasangan suami-istri Marheno Jayanto dan Zazila, menyadari satu hal yang meresahkan tentang kesenian kota mereka : batik Kota Semarang sudah lama mati suri. Sekitar tahun 1970 dan 1980, minat terhadap kegiatan membatik di kota ini memang menurun drastis. Kampung Batik Semarang yang terkenal bahkan sempat mati total lantaran nihilnya aktivitas membatik di masa itu.

Keprihatinan terhadap kondisi ini menginspirasi Merheno dan Zazila untuk coba-coba mengembangkan kembali Batik Semarang. Tahun itu, mereka mulai membuka program pelatihan untuk ibu-ibu rumah tangga di beberapa kelurahan di kota. Dari sini, lahirlah generasi baru pengrajin batik khas kota tersebut. “Inilah yang akhirnya menjadi embrio batik kota Semarang,” papar Sasi Syifaurohmi, co-owner sekaligus generasi kedua dari Zie Batik Semarang. Nama yang khas ini diambil dari kependekan nama Zazilah, founder Zie Batik Semarang.

Motif-motif yang dibuat para pengrajin ini mengusung tema ikon kota Semarang, seperti Lawang Sewu, Tugu Kuda, dan Gereja Blendok. Selama beberapa tahun, kegiatan pelatihan dan pembuatan batik ini berlangsung di Kampung Batik, Semarang Bawah. Sayangnya, daerah tersebut rentan terkena banjir yang secara konstan menjadi kendala bagi para pengrajin. Akhirnya pada tahun 2010, Marheno dan Zazila memutuskan untuk memindahkan pusat produksi batik mereka ke Kampung Malon.

Meskipun jauh dari pusat kota, namun kampung yang berlokasi di Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, ini memiliki alam yang masih begitu asri. Dari sini, keduanya berpikir untuk mengganti bahan dasar sintetis yang biasa mereka gunakan untuk pewarnaan batik, menjadi bahan alami. Kala itu, batik dengan pewarna alam belumlah terlalu populer. Namun Zie Batik berani mengambil langkah tersebut, demi membangun bisnis batik yang sustainable. “Karena kami berpikir bahwa jika memang suatu saat Batik Semarang ini berkembang, kami tidak ingin Semarang menjadi kota yang tercemar seperti kota-kota batik lainnya,” ujar Sasi dengan mantap.

Di tahun 2010, Zie Batik pun mulai mendalami pengerjaan batik yang ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan limbah dari buah Mangrove kering yang diekstrak menjadi bahan pewarna alami. Limbah bakau yang kerap disebut Propagul ini memang banyak ditemukan di wilayah hilir Semarang dan menghasilkan gradian warna cokelat hingga merah marun setelah diolah. UKM Zie Batik juga menggunakan kult mahoni, kayu nangka, dan tanaman lain seperti Indigofera dan Jelawe untuk warna-warna indigo. Mereka turut membudidayakan tanaman-tanaman langka tersebut dan menciptakan lapangan kerja baru bagi para petani yang mengolahnya.

Membawa Batik Semarang Ke Mancanegara

Sebelas tahun menggeluti industri batik dengan pewarna alami, Zie Batik Semarang mengokohkan namanya sebagai pionir di bidang ini. Omzet yang mereka hasilkan rata-rata berada di angka 30 juta hingga 50 juta rupiah per bulannya. Saat permintaan sedang tinggi-tingginya, mereka bahkan bisa menembus angka 75 juta rupiah.

Pangsa pasar mereka adalah para wanita dewasa yang termasuk dalam kalangan ekonomi menengah ke atas. “Khususnya mereka yang memang peduli terhadap isu lingkungan dan suka produk-produk batik gitu,” ujar Sasi. Selembar kain batik cap motif biasanya mereka jual dengan kisaran harga 150 ribu hingga 500 ribu rupiah. Sementara kreasi teranyar mereka, Batik Legenda yang mengusung tema-tema cerita legenda rakyat, dibandrol dengan harga yang lebih tinggi, yaitu sekitar 5 juta hingga 16 juta rupiah per 2,5 meter, tergantung tingkat kesulitannya. Legenda yang mereka angkat sebagai motif batik di antaranya adalah cerita Malin Kundang, Pragulo Pati, dan Mahabharata. Originalitasnya yang tinggi membuat Batik Legenda banyak dicari para penggemar batik Nusantara.

Selain itu, baru-baru ini mereka juga menyasar segmentasi pasar baru, yaitu generasi milenial melalui produk batik terbaru yang lebih simpel dengan warna-warna cerah. Tak hanya itu, Zie Batik kini juga mengeluarkan produk-produk ready to wear, alias siap pakai, seperti outer, kemeja, dan gaun sederhana. “Sehingga konsumen kita yang biasanya hanya beli kain, mereka juga bisa langsung membeli bajunya. Jadi bisa langsung siap pakai. Karena di saat ini kan orang lebih suka yang lebih simpel,” papar Sasi panjang lebar.

Perkembangan bisnis Zie Batik Semarang memang terbilang pesat selama sebelas tahun belakangan. Rata-rata keuntungan terbesar mereka didapat dari penjualan di galeri dan pameran-pameran tingkat lokal hingga dunia yang sering mereka ikuti. Membawa batik ke kancah internasional memang diakui Sasi sebagai salah satu pencapaian terbesar Zie Batik Semarang. “Kami mendapat kesempatan mewakili Indonesia untuk membawa batik warna alam di pameran Indonesia Kain Party di Tokyo, Jepang pada tahun 2018,” ujarnya.

Regenerasi Kampung Malon dan Semangat Berkelanjutan

Berawal dari semangat Zazilah, Kampung Malon menjelma menjadi destinasi wisata lokal yang terkenal akan kegiatan produksi batik khas Semarang. Zie Batik pun mendirikan galeri yang khusus menjual batik pewarna alam mereka di kampung ini. Selain memilih batik, pengunjung juga bisa melihat langsung proses pembuatan batik cap yang dikerjakan di beberapa rumah penduduk. “Kemudian mereka bisa melihat juga tanaman-tanaman pewarna alaminya dan bisa berbelanja langsung di galeri kami,” jelas Sasi.

Ia pun optimis bahwa proses regenerasi pembatik di Kampung Malon akan tetap terjaga keberlangsungannya. Saat ini, Zie Batik tengah membina empat kelompok pembatik yang berada di wilayah Gunung Pati. “Mereka kami bina untuk mereka bisa membatik dan masing-masing kelompok itu ada sekitar 10 orang, jadi kami membina kira-kira 40 orang,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun setelah mulai menerapkan pewarna alami, Zie Batik Semarang resmi mendapatkan sertifikasi SNI Batik. Artinya, produk mereka sudah diakui sesuai Standar Nasional Indonesia. Mereka pun mendapat beberapa penghargaan sebagai wirausaha yang berbasis sosial dan ramah lingkungan. “Saat ini kami juga sedang mebgikuti sertifikasi industri hijau untuk industri-industri yang memang benar-benar ramah lingkungan,” jelas Sasi.

Tidak Goyah Dihantam Pandemi

Meski banyak UKM yang tumbang dalam setahun belakangan, namun Zie Batik terukti mampu melewati masa kritisnya. Di awal pandemi, mereka bergerak cepat dengan mulai memproduksi masker kain batik. “Alhamdulillah, itu bisa menghidupkan batik dan kami bisa bertahan menghadapi COVID ini,” ujar Sasi. Penjualan masker batik yang cukup baik memberikan kesempatan pad Zie Batik untuk melakukan pivoting ke model fesyen lain, seprti produk-produk ready-to-wear.

Pemasaran yang tadinya seratus persen dijalankan lewat pameran dan bazaar pun mulai digeser ke ranah online. Menurut Sasi, sejauh ini bisnis keluarganya memang sedang dalam tahap pengoptimalan digital marketin. Meski begitu, mereka sudah memiliki basis pelanggan setia di berbagai sosial media, mulai dari Facebook fanpage hingga Instagram. Dan jika konsumen ingin berbelanja melalui website, Zie Batik hadir di alamat www.xiebatiksemarang.com. Saat ini, Zie Batik bisa juga kita temukan di marketplace, seperti Shopee dan Tokopedia.

Setelah berhasil melewati kelamnya situasi pandemi, Sasi optimis akan rencana masa depan Zie Batik Semarang. Keluarganya berharap Zie Batik bisa menjadi perusahaan batik warna alam yang bisa memberikan experience lebih kepada konsumen, melalui wisata edukasi batik dan ramah lingkungan. Para pendirinya juga ingin melihat produk-produk Zie Batik menjadi identitas batik untuk generasi milenial dan generas-generasi selanjutnya.

Sasi sendiri berharap agar Zie Batik Semarang terus tumbuh, bertahan, dan berkembang denga mengangkat nila-nilai kearifan budaya dan sejarah. “Jadi memang ke depan kita ingin Zie Batik ini bisa lebih luas lagi jangkauannya, lebih diterima masyarakat, bisa menjadi satu identitas yang mewakili batik Indonesia,” ujarnya. Meski ke depannya tentu akan ada tantangan yang lebh besar, Sasi yakin batik warna alam milik mereka akan terus mendapat tempat khusus di hati para pecinta batik.

Referensi :

  1. https://www.bsn.go.id/main/berita/detail/9434/zie-batik-ukm-pelopor-usaha-batik-di-semarang-dan-ber-sni
  2. https://jateng.tribunnews.com/2018/10/02/batik-leg...
  3. Wawancara langsung dengan Co-Owner Zie Batik Semarang, Sasi Syafaiturohm via chat WhatsApp.
  4. https://money.kompas.com/read/2021/10/28/133500926/kena-phk-zalzilah-hidupkan-batik-semarang-yang-sempat-mati-suri?page=all
  5. https://halosemarang.id/kampung-batik-semarang-bersolek
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: