UKM Indonesia

Standar yang Wajib Dipenuhi dalam Ekspor

Penulis : Banu Rinaldi
Editor : Hilda Fachrizah
24 Juni 2020
Lama Baca : menit

Banyak pelaku UKM di Indonesia yang tidak dapat melakukan ekspor dikarenakan tidak terpenuhinya standar produk untuk pasar ekspornya. Tapi banyak juga yang mengira bahwa standar ekspor itu selalu berkaitan dengan sertifikasi. Padahal terdapat standar yang lebih penting untuk dipenuhi yaitu keamanan produk yang diwajibkan melalui regulasi pemerintah masing-masing negara.

Jadi sebenarnya, masalah terbesar gagalnya produk UKM di Indonesia untuk masuk ekspor bisa jadi bukan sertifikasi, tapi lemahnya tingkat keamanan produk. Apalagi hal ini juga dipicu oleh regulasi di Indonesia yang tidak seketat regulasi di negara-negara tujuan ekspor. Di sisi lain, UKM di Indonesia mengalami kesulitan untuk meningkatkan standar keamanan produk. Di artikel ini, akan dibahas mengenai apa dan bagaimana memenuhi kewajiban standar-standar wajib tersebut.


Definisi

Standar wajib, atau bisa kita sebut standar primer, merupakan standar dan persyaratan yang diwajibkan oleh pemerintah melalui regulasi. Inilah standar utama yang harus dipersiapkan oleh pelaku UKM untuk melakukan ekspor. Biasanya, standar wajib ini berupa spesifikasi teknis yang dikenakan pada produk yang didistribusikan ke pasar. Contoh dari spesifikasi teknis ini adalah berbagai batasan yang boleh terkandung dalam produk. Seringkali, standar wajib ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan keselamatan, mencegah penipuan, serta menghindari ketidaksesuaian produk. Standar wajib ini harus dipatuhi oleh semua supplier atau eksportir, bagaimanapun situasinya untuk dapat masuk ke suatu pasar atau negara.

Standar wajib ini biasanya dikembangkan oleh pemerintah atau organisasi publik yang diakui. Ketika standar wajib ini dikembangkan, kebutuhan dari berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) dipertimbangkan. Lalu, faktor-faktor eksternal juga dipertimbangkan khususnya dalam kesehatan, keamanan, dan lingkungan. Sehingga, standar ini yang sama untuk semua perusahaan dan semua konsumen.

Baca juga: Visi dan Misi

Standar wajib ini juga terbagi dalam tiga tingkatan level yaitu, nasional, regional, serta internasional.

  • Level Nasional: Setiap negara mengembangkan standar masing-masing untuk diberlakukan secara wajib di lingkup kedaulatan wilayah bersangkutan. Ini bisa dilakukan melalui lembaga standardisasi nasional, dibantu atau diberikan kewenangan kepada organisasi pengembangan lainnya (yang telah diakreditasi)
  • Level Regional: Saat ini telah tercipta kerjasama beberapa negara di kawasan dalam bentuk pasar tunggal, seperti Uni-Eropa dan ASEAN. Mereka sepakat bersama-sama untuk merumuskan dan menerapkan standar untuk diberlakukan di Kawasan tersebut.
  • Level Internasional: Terdapat empat lembaga standardisasi internasional, yaitu ITU, IEC, ISO, dan CAC, yang mengembangkan standar wajib yang diterapkan secara internasional.

Apa bedanya standar wajib dan standar umum?

Sebelum kita membahas lebih lanjut, seringkali pelaku UKM mengalami kebingungan dalam membedakan antara standar wajib dan standar umum. Pembeda utamanya adalah bahwa standar wajib diatur oleh pemerintah melalui regulasi, sedangkan standar umum ditentukan oleh pasar (pihak swasta). Jika standar wajib lebih mementingkan keamanan produk, maka standar umum lebih mementingkan kualitas produk.

Sebagai ilustrasi untuk menerangkan lebih jelasnya, mari kita bahas perbedaan tersebut pada kasus produk apel. Standar wajib yang diterapkan untuk mengekspor apel biasanya adalah mengenai residu pestisida dan penyakit yang mungkin bisa terjadi untuk mengkonsumsinya. Di satu sisi, standar umum untuk mengekspor apel biasanya menerangkan tentang warna, ukuran, kemanisan, kesegaran, kecatatan, dan lainnya.

Kesimpulannya, standar wajib diperluas cakupannya oleh standar umum untuk lebih memenuhi kebutuhan pasar. Akan tetapi, standar wajib harus diprioritaskan terlebih dahulu daripada standar umum untuk dapat memasuki suatu pasar secara legal. Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai standar umum, akan dibahas di artikel tersendiri kedepannya.

Baca Juga: Mengenal Harga Patokan Ekspor


Bagaimana pelaku UKM dapat menemukan informasi mengenai standar wajib untuk ekspor?

Masing-masing negara diharuskan untuk mengembangkan portal untuk menyediakan informasi untuk standar yang diregulasikan. Beberapa negara menyediakan situs yang menginformasikan standar-standar yang terkait untuk ekspor ataupun impor produk makanan. Contoh situs dari Indonesia adalah exim.kemendag.go.id yang disediakan oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Disitu tertera segala standar ekspor dari berbagai negara untuk tiap komoditi produk. Lalu, International Trade Center (ITC) juga menyediakan informasi ini melalui exportpotential.intracen.org. Selain itu, tiap negara atau regional juga menyajikan informasi tentang standar ekspor, seperti di Uni-Eropa pada situs trade.ec.europa.eu.

Selain itu, biasanya standar wajib ini dapat ditemukan dan ditanyakan lebih detil pada kementerian yang terkait pada kesehatan dan pertanian masing-masing negara. Bahkan, kedutaan pun juga mampu menyediakan informasi-informasi ini yang memberikan panduan dalam standar. Lalu, sebetulnya Importir juga dapat menyediakan informasi mengenai standar-standar wajib ini, namun terdapat risiko bahwa informasinya kurang akurat karena didapatkan tanpa mendapatkan konfirmasi dari pemerintah.

Baca Juga: Mengenal Ragam Standar Produk Ekspor

Untuk memahami lebih jelas, mari kita bahas standar wajib ini untuk kategori produk yang paling banyak ditemui pada UKM di Indonesia, yaitu produk makanan dan produk tekstil. Disini kita akan membahas apa saja hal yang perlu kita perhatikan pada masing-masing standar wajibnya.


Standar Wajib untuk Produk Makanan

Terdapat banyak sekali variasi produk dalam produk makanan. Karena itulah, standar wajib ekspor pada produk makanan berbeda-beda untuk setiap negara bahkan untuk setiap sektor, tergantung dari regulasi yang ditetapkan di masing-masing. Meskipun terdapat banyak sekali standar wajib pada produk makanan di setiap negaranya, berikut tabel di bawah ini beberapa komponen yang biasanya diperlukan pada standar wajib makanan.Standar Wajib Ekspor untuk Produk Makanan

Komponen paling penting dalam standar wajib pada produk makanan adalah pada kandungan bahannya seperti Residu Pestisida, Kontaminan, dan Kontaminasi Mikrobiologi. Ini tidak hanya berlaku pada produk makanan mentah (seperti biji kopi hijau utuh) namun juga wajib berlaku pada produk final (seperti kopi bubuk). Kepatuhan dalam standar wajib ini dibuktikan dengan laporan uji lab atau sertifikat kesehatan.

Selain itu, biasanya standar wajib itu perlu dilihat dari pengemasan dan pelabelan. Tetapi, tiap tahapan proses memiliki standar yang berbeda-beda. Produk makanan yang mentah, atau tidak diberlakukan proses lebih lanjut, jelas tidak memerlukan standar sebanyak produk final.

Baca Juga: Meningkatkan Daya Saing Ekspor dengan Mengkomunikasikan Prinsip ‘Sustainability’

Meskipun terdapat standar produk makanan yang berbeda-beda di tiap negara atau regional, eksportir sebaiknya juga mengacu pada standar internasional untuk produk terkait, contohnya pada Codex Alimenterius Commission (CAC), yang dibentuk oleh FAO (organisasi makanan dan pertanian dunia) dan WHO (organisasi kesehatan dunia), untuk membuat standar dan panduan pada produk makanan. Ini ditujukan untuk menjaga keselamatan konsumen, memastikan perdagangan yang fair, serta meningkatkan koordinasi antar standar.


Standar Wajib untuk Produk Tekstil

Terdapat ruang lingkup yang luas pada produk tekstil. Bahkan tiap tahapan proses juga memiliki standar wajib yang berbeda-beda. Proses pengolahan benang adalah yang membutuhkan modal mesin besar, sehingga biasanya dimiliki oleh Usaha Besar. Di sisi lain, pelaku UKM kebanyakan berada pada sektor proses pengolahan produk final, seperti pakaian jadi, karena lebih membutuhkan modal tenaga kerja saja. Oleh karena itu, pelaku UKM hanya perlu fokus mengetahui standar pada proses produk final yang dapat dikerjakan oleh UKM. Meskipun terdapat berbagai standar yang sudah dikembangkan dalam setiap tahapan proses produksi tekstil, hanya sedikit disini yang berupa standar wajib. Kebanyakan standar ini adalah bersifat umum yang dibutuhkan oleh pasar, apalagi untuk proses produk final.

Dalam level internasional, sudah dikembangkan ratusan standar internasional pada produk tekstil. Tidak hanya itu, berbagai negara juga sudah mengembangkan standar yang wajib dipatuhi untuk produk tekstil, khususnya pada bahan-bahan tertentu yang tidak diperbolehkan dalam proses pengolahan. Oleh karena itu, penting sekali bagi eksportir untuk mengetahui standar wajib ini pada masing-masing target negara. Secara umum, berikut dibawah ini adalah komponen-komponen yang penting diperhatikan pada standar wajib untuk mengekspor produk tekstil pada masing-masing negara.

Baca Juga: Menerapkan Pelabelan (Labelling) yang Layak dalam Standar Ekspor

Standar Wajib Ekspor untuk Produk Tekstil

Komponen paling penting dalam standar wajib di produk tekstil ini adalah penggunaan bahan pada produk, khususnya bahan kimia yang biasanya diregulasikan secara ketat di berbagai negara. Kepatuhan standar ini juga ditunjukkan dengan uji lab atau sertifikasi kesehatan. Banyak lembaga standarisasi nasional yang sudah mengembangkan laboratorium tekstil.

Lalu, hal terpenting lainnya untuk dilihat adalah mengenai pelabelan yang berlaku berbeda di tiap negara. Biasanya terdapat dua hal utama dalam pelabelan tekstil. Pertama, perlu terdapat penjelasan mengenai komposisi bahan, seperti “cotton 80%, polyester 15%, nylon 5%”. Kedua, perlu terdapat bagaimana produk dirawat sehari-hari seperti dalam pencucian dan penyetrikaan. Terakhir, kebanyakan konsumen ingin mengetahui lokasi diproduksi produk tekstil. Jadi, penting untuk dicantumkan keterangan Made-in.

Begitulah pembahasan kita mengenai standar-standar wajib dalam ekspor. Sekarang, apakah sahabat UKM sudah mengetahui apa yang harus dipersiapkan untuk meningkatkan keamanan produk? Jika kapasitas produksi kita belum mampu untuk memenuhi target pasar yang kita inginkan, sebaiknya jangan dipaksakan. Memang, kebanyakan regulasi di negara-negara maju terhadap standar wajib ini tinggi dan ketat. Bila ingin memulai ekspor dengan kapasitas yang masih terbatas, usahakan untuk menargetkan pasar negara yang regulasi standarnya belum terlalu tinggi dan ketat.

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

Akan tetapi, jika kualitas dan keamanan berbagai produk kita sudah banyak yang diakui oleh berbagai negara ekspor, maka sebenarnya keterbatasan kapasitas itu tidaklah ada. Oleh karena itu, pelaku UKM haruslah mau terus mencari dan belajar tentang informasi-informasi standar produk. Dengan adanya berbagai informasi tersedia serta dukungan pelatihan dan akses modal saat ini, maka inilah waktu yang tepat untuk meningkatkan standar produk UKM Indonesia. UKM pasti bisa ekspor dan naik kelas!

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. International Trade Center: Export Quality Management
  2. BSN: Pengantar Standardisasi
  3. CBI: Which buyer requirements will I face on the European apparel market?
  4. Banu Rinaldi: Export Plan Development for Market Entry of Indonesian Agri-Food SMEs to Germany
Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: