UKM Indonesia

​Sambal Mbegor


https://cdn.statically.io/img/produkumkmjember.id/assets-new/uploads/produk/1631341274-sambal-teri-khas-sambel-mbegor-1.JPG?f=auto

Sumber gambar : produkumkmjember.id

Di Indonesia, berjualan makanan dengan sambal selalu menjadi ide yang apik. Tapi bagaimana dengan bisnis yang hanya menjual sambal? Bisakah berkembang dengan baik di pasaran? Bisnis Sambal Bebek Mbegor membuktikan ini bukan hal yang mustahil. Dimulai dari usaha warung makan sederhana di Jember, saat ini produk Sambal Bebek Mbegor yang terkenal dengan aroma sambal asap khasnya, mampu hadir hingga di pasaran Hongkong dan Macau. Kisah perjalanan bisnisnya wajib didengar teman-teman UKM yang ingin mengangkat sambal sebagai produk andalan.

Bermula Dari Sebuah Warung Makan Bebek

Yosie Ermawan, owner Sambal Mbegor, awalnya bukanlah seorang pengusaha. Alih-alih, ia justru menyandang gelar Master di bidang hukum dan lebih dari sepuluh tahun berkarir di salah satu bank ternama Indonesia. “Saya nih awalnya adalah pegawai sebuah bank BUMN, dan perjalanan bekerja selama 18 tahun,” ujarnya. Namun, setelah sekian lama bekerja, ia akhirnya merasa lelah dan ingin mengejar hasratnya yang terpendam : berbisnis sendiri. Yosie mengakui bahwa passion menjadi seorang pebisnis tumbuh pelan-pelan selama ia bekerja.

Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, ia sudah pernah menjajal kemampuannya berdagang setidaknya tiga kali. Mulai dari mencoba bisnis kontraktor, membuka toko bangunan, hingga menjual tanaman hias dan tanaman buah. Sayangnya, tidak ada satupun yang sukses berkembang. “Saya berpikir, apakah mungkin karena saya nggak total ya? Gitu. Akhirnya saat momennya pas, saya dipindah tugas luar kota, wah ini kayaknya momennya pas ini kalo saya udah resign aja,” ujar Yosie panjang lebar. Ia pun resmi berhenti bekerja di tahun 2013.

Meskipun hal ini ia lakukan dengan nekat tanpa bekal apapun, Yosie yakin bahwa tekadnya sudah bulat. Ia yakin bahwa jalan wirausaha akan lebih luar biasa dibandingkan bekerja di bawah bisnis milik orang lain. “Mending saya jadi raja kecil daripada jadi raja tapi kerajaannya bukan punya saya,” tutur Yosie.

Di akhir tahun 2013, ia memberanikan diri membuka sebuah warung makan bernama Kedai Bebek Mbegor di daerah Jember. Nama ini diambil dari kata “mbegor”, yang dalam dunia unggas berarti “mekar” dan dipilih Yosie dengan harapan bisnis miliknya pun terus mekar berkembang. Warung makan ini memiliki menu andalan berupa hidangan daging bebek dan ayam. Tak ketinggalan, ia memproduksi sambal racikan sendiri untuk menemani kedua menu tersebut. Pelanggannya kebanyakan adalah mahasiswa dari kampus-kampus sekitar warung makan. Bisnis ini pun cukup berkembang dan mampu menjadi sumber penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari Yosie dan keluarga.

Menariknya, lama kelamaan Yosie menyadari bahwa sambal bebek buatannya punya daya tarik tersendiri di kalangan para konsumen. “Sambalnya itu banyak yang mau bungkus. Kadang-kadang malah mau beli sambalnya saja. Karena mungkin anak kampus ya. Anak kampus, cuma mau beli sambalnya aja lima ribu, gitu ya,” papar Yosie.

Hal ini menginspirasinya untuk memproduksi sambal tersebut dalam kemasan. Saat itu, Yosie hanya memiliki dua varian sambal di warung makannya, yaitu sambal terasi dan sambal bawang. Mulai tahun 2015, ia mengembangkan ide ini dengan belajar tentang pengemasan sambal kemasan. “Ya ternyata juga tidak mudah. Uji coba, sana sini, akhirnya saya menemukan sambal kemasan ini,” ujarnya.

Menjadi Unik Dengan Aroma Asap yang Khas

Di tahun 2018, Yosie mulai benar-benar fokus untuk membesarkan sambal kemasannya. “Di awal, pengembangannya itu hanya di sambal bawang saja,” papar Yosie. Di tahap awal tersebut, ia harus meriset tentang bagaimana produk yang akan dia orbitkan ini bisa berbeda dengan sambal-sambal yang lain. Sebab menurutnya, persaingan di dunia sambal cukup ketat dikarenakan banyaknya pemain di sektor ini. Ia pun berusaha mencari dan melakukan riset tentang Unique Selling Point dalam berbisnis. Ia menemukan bahwa keunikan produknya adalah sambal yang beraroma asap. “Maka USP atau keunikan produk saya, Unique Selling Point saya, ada di sambal asap Mbegor. Sehingga saya mengembangkan sambal asap Mbegor,” papar Yosie.

Mengangkat konsep ini sebagai penguat posisi produk di antara para pesaing, varian Sambal Mbegor kemudian perlahan berkembang. Dari yang semula hanya ada menu sambal bawang dan terasi, Yosie juga mengusung Sambal Tuna Asap, Cumi Asap, Udang Asap, hingga Teri Asap. Ia juga tidak meninggalkan varian yang sifatnya tradisional, seperti sambal bajak, terasi limau, dan teri. Rasa pedas dengan aroma asap yang khas sukses menarik konsumen Indonesia.

Riset yang dijalankannya tidak hanya berhenti di situ. Ia juga mencari tahu bagaimana target konsumen menyukai sambal yang mereka makan, termasuk dalam level kepedasan yang paling banyak diminati. “Awalnya sambal kami level pedasnya pedas banget. Tapi pada perkembangannya, saya coba riset kecil, sepuluh customer saya coba tanya suka yang mana, saya kasih sampel,” papar Yosie. Hasilnya, konsumen ternyata menyukai level kepedasan medium, yang terasa pedasnya namun tidak terlalu membakar lidah.

Terakhir, Yosie juga melakukan riset tentang masa ketahanan produk. Awalnya, sambal kemasan ini hanya bisa tahan satu hingga dua bulan. Namun setelahnya, ia menemukan cara untuk sambalnya agar bisa bertahan lebih dari enam bulan, dan bahkan hingga satu tahun. “Karena kalo share market-nya sampai keluar negeri kan paling nggak tahan sampai dua belas bulan. Atau jika kita punya target masuk ke retail-retail modern, paling ndak tahannya itu produk kita harus bisa tahan selama sebulan biar nggak terlalu sering-sering retur gitu,” papar Yosie.

Rangkaian riset tersebut membuahkan jawaban yang menjadi kunci atas respon positif masyarakat terhadapnya. Tingkat kepedasan mereka diapresiasi, dan masa awet yang lebih lama membukan jalan bagi mereka untuk menembus pasar retail. Alhasil, penjualan Sambal Mbegor terus merangkak naik.

Mengatasi Hambatan dan Mengembangkan Strategi Marketing

Namun,kenaikan ini bukannya tanpa hambatan. Bagi Yosie dan timnya, tantangan yang harus dihadapi di masa-masa awal adalah minimnya peralatan produksi yang tersedia. Saat itu, produksi Sambal Mbegor Kemasan rata-rata hanya 100 – 200 pcs per bulannya, tergantung permintaan pelanggan. “Di awal kita kan masih banyak manual ya, pakai penggoreng biasa dan sebagainya,” cerita Yosie. Beberapa tahun belakangan, seiring dengan semakin naiknya jumlah pesanan, alat-alat manual mulai digantikan. Mulai dari mesin masak hingga pengatur suhu otomatis. Tentu saja, modernisasi ini membutuhkan dana investasi yang tidak sedikit. “Tapi tidak apa-apa daripada kita saat meng-handle proyek-proyek besar justru kesulitan jika nggak menggunakan mesin,” papar Yosie.

Selanjutnya, Yosie membuat strategi marketing yang lebih berani. Ia mulai membuat beberapa akun media sosial untuk Sambal Mbegor dan mengunggah varian produk ke akun-akun tersebut. Selain itu, ia juga belajar tentang penggunaan Instagram dan Facebook Ads. Saluran promosi baru ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan produk Sambal Mbegor. Dengan skala brand awareness yang semakin baik, mereka mulai menarik perhatian para public figure seperti Anang Hermansyah dan Dewi Persik yang turut mempromosikan Sambal Mbegor.

Bertahan Saat Pandemi Lewat Ekspor Produk

Setelah mengalami perkembangan yang cukup pesat sepanjang tahun 2018 dan 2019, Yosie harus menerima pukulan berat di awal tahun 2020. Datangnya pandemi berbuah merosotnya bisnis ini. Omzet Sambal Mbegor turun hingga 50%. Padahal, omzet mereka masih dalam skala mikro bisnis yang terbilang kecil. Alhasil, mereka pun harus mengurangi SDM, dari 11 pekerja menjadi hanya 3 yang dipertahankan.

“Tapi Alhamdulillah kita ada pasar khusus untuk Hongkong dan Macau ya. Kami bekerjasama dengan beberapa toko di sana yang rutin mengambil produk kami di Hongkong dan Macau,” ujar Yosie.

Di tahun 2019 lalu, Sambal Mbegor memang berhasil menembus pasar ekspor, khususnya di Hongkong dan Macau. Strategi yang digunakan Yosie untuk penjualan mancanegara cukup unik. Ia memanfaatkan koneksi para migran dan tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Menurut Yosie, mereka merupakan reseller yang potensial untuk sebagai corong pengembangan produk Indonesia, terutama untuk UMKM.

“Jadi dari situlah saya mencoba pertama cari reseller, awalnya itu. Kebetulan reseller saya ada di Hongkong. Dari reseller di Hongkong itu kebetulan juga TKI kita coba kembangkan lagi Setelah itu kita dapet dua reseller, kita developed pelan-pelan, jual ke teman-temannya,” jelas Yosie. Ia juga kerap memberikan harga promo, untuk orderan dalam jumlah banyak, sehingga reseller semakin berminat untuk membeli.

Kerjasama ini berhasil cukup mendongkrak omzet Sambal Mbegor saat pandemi. Setiap minggu, mereka menerima pesanan sebanyak 200 – 300 pcs. Meskipun masih terbilang belia, namun kesempatan ekspor ini dilihat Yosie sebagai kemajuan yang akan terus digarapnya lebih baik. “Harapannya, saya masih bisa terus ekspor sampai ke berbagai negara dengan brand sendiri. Wah luar biasa itu mbak,” papar Yosie.

Lebih jauh, ia juga berharap brand Sambal Mbegor kian membesar dan produknya bisa diterima di seluruh retail modern Indonesia. Terakhir, Yosie pun menginginkan bisnisnya bisa terus memberi manfaat baik pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Diakuinya, beberapa tahun belakangan Sambal Mbegor lebih memilih mempekerjakan para wanita berstatus janda yang memiliki tanggungan anak. “Yang punya tanggungan keluarga itu akan saya utamakan untuk bekerja di tim saya. Jadi itu harapannya juga bisa memberi berkah ya, kepada semua tim, anggota, dan keluarganya karyawan,” pungkas Yosie.

Referensi :

Wawancara langsung via WhatsApp dengan Yosie Ermawan, S.H., M.H., owner Sambal Mbegor.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: