Sahabat Wirausaha, saat ini industri pakaian memiliki prospek pasar yang menggiurkan. Menurut Kementrian Perindustrian, sektor manufaktur terkait pakaian masih menjadi unggulan.

Industri ini menjadi kontribusi terbesar bagi pertumbuhan industri manufaktur yang menyumbang angka ekspor sebesar USD 8,30 miliar atau setara dengan Rp119,2 triliun pada tahun 2019 (kurs hari ini). Untuk itu, industri pakaian jadi (apparel) merupakan salah satu sektor manufaktur yang perlu didorong untuk tetap bisa produktif dan memiliki daya saing.

Baca Juga: Peluang Pasar: Apparel


Kenapa Apparel?

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dari manusia selaku makhluk hidup selain makanan (pangan) dan tempat tinggal (papan). Namun, seiring perkembangan zaman dan status sosial pakaian tidak lagi hanya sebatas kebutuhan primer. Pakaian juga membawa pesan tentang keberadaan seseorang dan mewakili gambaran dari gaya hidup seorang individu atau suatu komunitas tertentu.

Selain itu, perubahan musim dan wilayah juga akan mempengaruhi cara seseorang dalam memilih dan menggunakan pakaian. Lebih jauh lagi, pakaian juga biasa dijadikan sebagai patokan dari status dan kelas sosial di tengah masyarakat seperti pakaian apa yang dipakai, baik dilihat dari segi kualitas, jumlah, model, maupun harganya. Dari sanalah kemudian berkembang menjadi sebuah trend fashion tertentu.

Untuk itu, peluang pasar dalam industri apparel masih sangat terbuka lebar. Banyak hal yang bisa dikembangkan dalam industri tersebut. Berkecimpung dalam dunia fashion juga berarti berkecimpung di dunia kreatif. Hal tersebut dikarenakan dunia fashion bisa dikategorikan sebagai industri fast moving.

Baca Juga: Sajjad Muslim Apparel: Dari Karyawan Swasta Hingga Jadi Pengusaha

Dimana perubahan model pakaian dan minat konsumen begitu cepat bergerak dari satu trend ke trend yang lainnya seiring dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, dibutuhkan kreatifitas dalam persaingan dan pemasaran produk di pasaran.

Selain itu, industri pakaian juga dinilai sebagai industri yang tidak akan pernah punah. Bahkan, setiap tahunnya akan selalu meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Oleh karena itu, peran pemerintah juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara supply dan demand akan kebutuhan pakaian jadi yang terjadi di pasar.


Potensi Ekspor Apparel

Di tahun 2020, industri ini adalah salah satu yang mengalami penurunan akibat pandemi COVID-19. Meskipun demikian, peluang ekspornya masih terbuka, termasuk dengan adanya permintaan yang cukup tinggi untuk kebutuhan garmen dalam penanganan wabah virus korona tersebut.

Menteri Perindustrian menyebutkan jika industri garmen ini memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam penanggulangan COVID-19. Seperti yang dilakukan oleh PT Daehan Global yang berlokasi di beberapa kota, yaitu Sukabumi, Citeureup, Cibinong dan Brebes.

Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi sampai 63,3 juta pieces dengan volume ekspor perusahaan yang mencapai 17,76 juta pieces yang bernilai USD128,7 juta atau setara dengan Rp 1,8 miliar.

Baca Juga: Memantau Peluang Pasar Ekspor Melalui Platform Alibaba

Selama pandemi, produk yang banyak dihasilkan pun seperti pembuatan Alat Perlindungan Diri (APD) yang berupa coverall atau protective suit dengan kapasitas 12 juta pieces per bulan dan surgical mask sebanyak 6 juta pieces per bulannya.

Sampai akhirnya pada tahun 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor industri apparel di Indonesia mencapai USD 7,64 miliar atau setara dengan Rp 109,7 triliun pada periode Januari-November 2021. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 19,59% dibanding dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Dengan rincian nilai ekspor apparels dari tekstil tumbuh sebesar 15,42% menjadi USD 6,12 miliar (Rp 87,9 triliun) pada periode Januari – November 2021. Di sisi lain, ekspor apparel yang berkaitan dengan hasil rajutan tumbuh sebesar 44,06% menjadi USD 1,16 miliar (Rp 16,6 triliun).

Sedangkan, untuk perlengkapan pakaian dari tekstil tumbuh sebesar 20,98% menjadi USD 205,24 juta (Rp 2,9 triliun). Bahkan, untuk jenis kaos kaki rajutan dan sejenisnya tumbuh sebesar 12,91% menjadi USD110,75 juta (Rp 1,6 triliun). Kemudian, pakaian jadi dan perlengkapannya yang terbuat dari kulit pun mengalami kenaikan sebesar sebesar 319,8 9% menjadi USD 39,43 juta (Rp 566 miliar).

Baca Juga: Membedah Platform E-Commerce Untuk UKM Ekspor


Negara Tujuan Potensi Ekspor Apparel

Produk apparel masih menjadi andalan ekspor dari Indonesia selain produk migas. Pada tahun 2018, nilai ekspor di industri ini memiliki nilai sebesar USD 6,28 miliar (Rp 90 triliun). Angka tersebut merupakan ketiga terbesar setelah batu bara sebesar USD 20,63 miliar (Rp 296,2 triliun) dan minyak sawit sebesar USD 17,89 miliar (Rp 256,9 triliun). (Katadata). Berikut adalah beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor produk industri tekstil dari Indonesia.

  1. Amerika Serikat (USA) merupakan pasar terbesar bagi ekspor industri pakaian dari Indonesia. Pada tahun 2018, nilai ekspor apparel ke USA mencapai USD 3,78 miliar (Rp 52,87 triliun). Nilai tersebut setara dengan 51% dari total ekspor apparel dari Indonesia yang senilai USD 7,33 miliar (Rp 105,2 triliun), sedangkan di tahun 2021, nilai ekspor ke USA mengalami penurunan menjadi sebesar USD 3,39 miliar (Rp 48,6 triliun). Meskipun angka ini mengalami penurunan, akan tetapi USA masih menempati urutan pertama untuk tujuan ekspor produk apparel dari Indonesia. Selain itu nilai apparel di tahun 2021 yang berupa rajutan sebesar USD 832,97 juta (Rp 11,96 triliun) dan apparel beserta perlengkapan lainnya yang terbuat dari kulit sebesar USD 26,31 juta (Rp 377,8 miliar).
  2. Jepang menjadi negara kedua untuk tujuan ekspor di industri apparel dengan nilai USD 740,9 juta (Rp 10,64 triliun)
  3. Jerman menjadi pasar ekspor terbesar selanjutnya pada dengan nilai ekspor USD 372,48 juta (Rp 5,35 triliun) pada tahun 2018. Sedangkan, produk tekstil yang berupa kaos kaki rajutan dan sejenisnya memiliki nilai ekspor sebesar USD 36,49 juta di tahun 2021.
  4. Korea Selatan memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 347,2 juta (Rp 4,9 triliun). Angka tersebut menyumbang 5,5% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  5. Tiongkok memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 264,6 juta (Rp 3,5 triliun). Angka tersebut menyumbang 4,2% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  6. Australia memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 180,3 juta (Rp 2,58 triliun). Angka tersebut menyumbang 2,8% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  7. Kanada memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 178,8 juta (Rp 2,56 triliun). Angka tersebut menyumbang 2,8% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  8. Inggris memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 168,7 juta (Rp 2,42 triliun). Angka tersebut menyumbang 2,6% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  9. Belgia memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 146,5 juta (Rp 2,1 triliun). Angka tersebut menyumbang 2,3% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.
  10. Malaysia memiliki nilai ekspor apparel sebesar USD 77,6 juta (Rp 1,1 triliun). Angka tersebut menyumbang 1,2% dari total ekspor produk apparel di tahun 2018.

Baca Juga: Sukses Ekspor Dengan Penggunaan Platform Digital


Bagaimana Cara Melakukan Ekspor Produk Apparel?

Dalam menjalankan sebuah bisnis perlu memiliki strategi untuk mendukung agar bisnisnya berjalan lancer termasuk dalam bisnis apparel. Kemudian apa saja startegi yang dilakukan untuk bisa memasarkan produk apparel menembus pasar global? Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan.

1. Memperbanyak Ilmu Bisnis

Globalisasi ekonomi banyak memberikan dampak yang cuku signifikan dalam pengembangan usaha. Secara umum, para pelaku bisnis pasti menginginkan usahanya bisa berkembang, bahkan bisa sampai bisa menembus pasar internasional. Namun, kenyataannya setiap negara memiliki peraturan dan prosedur yang berbeda dalam menangani produk ekspor maupun impor.

Oleh karenanya, dalam hal ini diperlukan keilmuan khusus untuk bisa melakukan pengembangan pasar ke luar negeri. Maka dari itu, pelaku usaha dianjurkan untuk mengikuti pelatihan terkait ekspor dan impor barang.

Selain untuk menambah keilmuan dan wawasan, hal tersebut juga akan membantu pelaku usaha dalam menentukan strategi apa yang bisa diterapkan pada usahanya dan dirasa cocok untuk dijalankan. Dengan demikian, usaha yang dilakukan pun akan lebih efektif dan efisien dalam memasuki pasar global.

Baca Juga: 3 Kunci Sukses Transformasi Bisnis Offline ke Online

2. Perluas Networking

Selain memiliki keilmuan di bidang ekspor dan impor, memperbanyak networking juga akan berpengaruh pada perkembangan usaha. Sebagai contoh, dengan memperluas jaringan akan mempermudah pelaku usaha untuk mendapatkan supplier yang cocok, jalur distribusi yang efisien, maupun mendapatkan pangsa pasar yang segar. Memperbanyak jaringan bisa didapatkan dari mengikuti pelatihan yang satu frekuensi dengan bidang usaha yang digeluti.

3. Berteman dengan Media

Selain memiliki banyak jaringan pertemanan, memperluas jaringan dengan awak media juga akan sangat membantu dalam mempromosikan produk kita. Apalagi jika tujuan kita adalah mengembangkan bisnis apparel dengan memakai nama brand sendiri.

Sarana promosi yang lebih tepat adalah dengan menyiarkannya melalui berbagai media untuk membentuk brand awareness pada khalayak. Dengan demikian, proses pemasaran pun akan semakin mudah untuk mendapatkan tempat di hati konsumen.

4. Berani Mengambil Risiko

Langkah selanjutnya adalah dengan berani mengambil risiko. Memutuskan untuk go international berarti harus siap dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di masa mendatang.

Baca Juga: Risiko Bisnis: Finansial, Sosial, dan Emosional serta Cara Memitigasinya

Meskipun strategi sudah matang dipersiapkan, tidak menutup kemungkinan jika strategi tersebut bisa tidak maksimal bahkan gagal. Oleh karenanya, sebagai pelaku usaha harus siap dengan berbagai risiko yang kemungkinan berujung pada kerugian yang tidak sedikit.

5. Mengikuti Pameran atau Fashion Show

Mengikuti berbagai kegiatan seperti pameran atau menggelar sendiri fashion show akan memperlebar ruang kita untuk semakin dikenal secara luas. Pilihlah pameran atau kegiatan yang sejalan dengan usaha. Hal tersebut tergantung dari penentuan target market di awal.

Sebagai contoh, jika kita menjual produk apparel baju olahraga dan perlengkapannya, maka akan lebih cocok jika mengikuti kegiatan dan pameran yang berkaitan dengan olahraga. Sebaliknya jika produk tersebut diikutsertakan dengan pameran yang berhubungan dengan kegiatan memasak, maka hasilnya pun akan kurang maksimal.

6. Eco Friendly Manufacturing dan Sustainability

Dunia saat ini sedang dihadapkan dengan masalah polusi. Isu eco-friendly business sudah banyak didengungkan dan menjadi perhatian dunia. Saat ini, konsumen pun mulai sadar dan lebih sensitif terhadap isu ini. Oleh karenanya, banyak para pelaku usaha yang mengusahakan bisnis yang ramah lingkungan.

Upaya ini juga digunakan pada industri pakaian. Pada umumnya di industri apparel lebih fokus pada pengurangan konsumsi air dan penggunaan warna organik pada teknik pembuatan pakaian. Sehingga kecenderungan pada pakaian yang ramah lingkungan dan organik pun lebih banyak mendapat perhatian. Pemilik private brand biasanya sudah mulai memperhatikan hal ini, terutama yang melayani pasar pad segmen pakaian bayi, anak-anak dan dewasa premium.

Baca Juga: Lima UKM yang Sukses Membangun Sustainable Business

7. Beralih Pada Smart Garment

Penetrasi teknologi dalam kehidupan manusia banyak membawa perubahan yang cukup besar. Setelah menjamurnya penggunaan smartphone, televisi pintar, jam tangan pintar, dll, industri apparel pun sudah mulai membidik teknologi yang bisa diterapkan pada pakaian. Saat ini “kaos pintar” mulai dilirik oleh sebagian kecil pengusaha apparel untuk menarik perhatian konsumen. Trend “kaos pintar” ini mulai muncul sebagai trend baru di industri pakaian.

Sebelumnya, teknologi yang biasa ditemukan pada perangkat yang dikenakan hanyalah berupa gelang kesehatan, jam tangan pintar. Namun, akhir-akhir ini telah terjadi pergeseran kea rah pintar yang menyasar pasar dengan segmentasi pelanggan premium dan mewah.

8. Gunakan Platform Digital Online

Dewasa ini, baik penjual maupun pembeli sudah dimanjakan dengan jual beli online. Kemudahan ini tentu banyak menguntungkan kedua pihak, baik dari sisi penjual maupun pembeli. Transaksi yang dilakukan pun bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Salah satu platform yang biasa digunakan untuk melakukan transaksi jual beli adalah platform e-commerce.

Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Platform E-Commerce Untuk UKM

E-commerce telah berkembang cukup pesat beberapa tahun terakhir dan sudah menyentuh berbagai kalangan. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan platform ini para pengusaha apparel pun bisa melakukan pengembangan pasar sampai ke luar negeri. Tanpa harus pergi ke luar negeri untuk melakukan promosi ataupun ekspansi, para pelaku usaha bisa tetap melakukan transaksi bisnis via online.

Sebenarnya produk pakaian jadi di dalam negeri memiliki kualitas yang tidak kalah saing dengan produk impor. Banyak produsen apparel lokal yang sudah memiliki brand dengan kualitas yang sudah diakui di pasar internasional.

Walau bagaimanapun, tidak dipungkiri jika dunia fashion sudah banyak memiliki pemain yang membuat persaingan di industri ini semakin ketat. Untuk itu, quality control dan uniqueness value juga berperan penting dalam proses pemasaran produk apparel. Nah, jadi apakah Sahabat Wirausaha tertarik untuk berbisnis apparel?

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.

Referensi:

  1. Katadata.co.id
  2. Badan Pusat Statistik