Gambar diambil dari langkahawal.com

Siapa sih yang bisa menyangka bahwa setahun belakangan ternyata menjadi masa-masa paling buruk bagi para pelaku UMKM? Jumlah omzet dan angka penjualan terjun bebas, bersama dengan permintaan pasar yang terus turun. Pelaku UMKM bertahan dengan berbagai cara, dan salah satunya adalah dengan memanfaatkan riset untuk membaca perubahaan minat konsumen di masa pandemi.

Nah, seperti apakah penggunaan data dalam menyusun strategi bisnis? Apa pula gunanya meriset data? Dan bagaimana cara menggunakannya guna menghadapi era pandemi seperti saat ini? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di artikel Tips Bisnis ini.


Membaca Kebutuhan Konsumen Lewat Data

Dilansir dari Liputan6.com, sebuah studi Global Digital Operations Study 2018 dari konsultan bisnis Pricewaterhouse Cooper (PwC) menunjukkan bahwa perusahaan yang sukses bertransformasi ke Industri 4.0 adalah mereka yang berhasil mengintegrasikan 4 komponen. Keempat komponen ekosistem tersebut ialah SDM, operasi, teknologi, dan solusi konsumen. Poin yang terakhir seringkali menjadi yang paling penting. Ya, solusi konsumen punya peran khusus di era ini. Baik barang maupun jasa yang diproduksi suatu usaha haruslah bisa menjawab permasalahan serta kebutuhan konsumennya.

Baca Juga: Tips Membuat Konten Reels Instragam Jadi Viral

Agar produk kita lebih mudah diterima, hal pertama yang harus teman-teman UKM lakukan adalah memanfaatkan data untuk memecahkan permasalahan konsumen. Dengan cara ini, konsumen sendiri bisa merasa lebih relate dan akrab dengan brand serta produk kita. Selain itu, memecahkan permasalahan juga bisa memicu terjadinya inovasi. Solusi inilah yang kemudian menjadi inovasi dari produk kita. Tapi tidak semua data mampu memberi kita gambaran tentang permasalahan yang harus dipecahkan.

Data itu luas, dan meskipun memang banyak sekali data yang dikelola oleh internal Kompas.co.id, jumlahnya hanya sekitar 4% dari keseluruhan data tren dan perdagangan digital di seluruh dunia. Tidak semua data bisa diolah, dan kita harus benar-benar pandai mencari data, mencari problem, dan menggunakan data untuk memecahkan problem tersebut. Yang paling penting dari data adalah value-nya itu. Jika tidak menemukan value-nya, percuma saja capek-capek melakukan riset. Terlalu banyak data juga berbahaya, sebab bisa membuat kita bingung dan lupa jati diri produk, dan tidak mendapat inovasi yang tepat.

Untuk contoh di bidang kuliner, ada satu cerita. Seorang teman memiliki usaha rumah makan, dan parkirannya selalu ramai, orang selalu masuk ke restorannya. Namun, di data pemesanannya, pesanan atau order hanya sedikit, tidak berbanding dengan ramainya rumah makan. Pemiliknya bingung, kenapa ya? Ternyata, banyak orang yang mampir hanya untuk menumpang ke WC. Dari sini kita bisa lihat, ada dua data, pertama adalah data pengunjung yang mampir dan kedua adalah data penjualan. Untuk mengetahui ini, ternyata kita harus melakukan analisis lebih lanjut untuk menentukan mana data yang relevan (penjualan) dan yang tidak relevan (pengunjung mampir).

Baca Juga: Tips Membuat Jadwal Konten di Media Sosial


Membaca Perubahan Perilaku Konsumen di Masa Pandemi Lewat Data

Dalam bisnis, consumer insight penting sebagai konsep dan pedoman dalam menyusun strategi pemasaran dan periklanan terhadap layanan atau produk yang dikembangkan sebelumnya.

Tahukah teman-teman tentang customer insight? Ini adalah proses mencari tahu tentang apa saja perbuatan, perilaku, dan bahkan pemikiran pelanggan kita secara intens. Hal ini dilakukan agar kita lebih memahami kebutuhan, keinginan, serta sikap konsumen terhadap produk yang kita tawarkan. Customer insight, pada akhirnya akan berubah menjadi data. Dengan konsep ini, perusahaan bisa menguji dan mengevaluasi layanan serta strategi promosinya (accurate.id). Tak hanya itu, dengan data ini teman-teman juga akan mampu mengembangkan produk ke arah yang tepat.

Menurut Rizal Kurniady, CEO Raja Uduk, perilaku konsumen sehari-hari di lingkungan adalah salah satu hal yang harus selalu diobservasi. Metode kami lebih ke observasi media sosial. Lihat apa yang sedang tren di kalangan pasar kita, misalnya ibu-ibu saat ini sedang heboh apa, sedang butuh apa, hal-hal apa yang banyak mereka unggah dan bicarakan, produk apa yang sedang tren. Ternyata selama pandemi, perilaku masyarakat sekaligus pelanggan kita berubah. Tidak semudah biasanya untuk makan di luar, karenanya kita berusaha memecahkan masalah bagaimana mereka bisa makan dengan nyaman di rumah, tanpa harus ribet atau mengotori dapur. Kita sediakan produk-produk jajanan praktis. Kita usahakan produk kita menjadi solusi dari kebutuhan mereka. Selain itu, harus ada juga pengaruh secara sosial. Pendekatan kita ke teman-teman yang memang punya pengaruh di media sosial, atau influencer, atau ‘pesugihan online’ lainnya, itu bisa digunakan sebagai promoter. Jadi beberapa konsumen loyal kami memang kami berikan produk gratis saat launching, agar mereka bisa promosikan juga ke teman-teman lainnya yang memang biasa juga menggunakan produk kita. Kita memang harus fleksibel di masa pandemi ini.

Baca Juga: Cara Mengoptimalkan Instagram Untuk Berbisnis, Yuk Simak Tipsnya!

Agar lebih fleksibel di masa pandemi ini, kita harus tentukan dulu pasar kita di mana. Contoh, bagaimana jika teman-teman ada di daerah terpencil, dengan akses internet yang sangat minim? Tentukan dulu pasarnya kita mau sejauh apa, karena e-commerce hanyalah satu channel untuk memperluas keberadaan produk kita. Tidak sedikit pengusaha yang sukses dimulai dari satu komplek perumahan sebagai pelanggannya. Di kondisi pandemi sekarang, misalnya tukang jus di sekitar komplek kita yang merubah haluan dagang lantaran banyak pelanggan yang takut memesan jus di luar rumah sehingga penjualan jadi menurun. Akhirnya, si tukang jus, yang sudah biasa memilih buah berkualitas bagus, juga mendalami usaha berjualan buah segar, agar tidak kehilangan pelanggan. Tak lama, ia juga mengembangkan bisnis dengan ide berjualan rujak, kolaborasi dengan salah satu penjual bumbu rujak di sekitar sana. Dari sini kita belajar, bahwa saat pandemi, supply jadi semakin banyak. Karenanya, akan lebih baik saat menentukan pasar, kita mulai dengan yang paling kecil, agar bisa mengukur resikonya agar saat berbisnis dan berkembang tidak tenggelam. Kita harus kreatif dan inovatif, tapi tetap menggunakan data, baik digital maupun offline.

Menurut Hanindia Narendrata, CEO Telunjuk.com, kita tidak bisa hanya mengandalkan hoki ketika berbisnis, tetap lakukan observasi, dan percayalah bahwa apa yang kita amati itu nantinya juga menjadi data. Jangan takut dengan data, dan jangan berpikir bahwa data hanyalah angka, tapi juga hasil pengamatan. Kedua data ini jadi faktor penting agar kita bisa mengambil keputusan dengan baik saat pengembangan bisnis.

Intinya, bermimpi besar itu memang penting, tapi jangan berpikir terlalu besar dulu. Fokus pada yang ada di sekitar kita, pada lingkungan lokal, saat sudah ahli di lokal, baru mengembangkan ke skala yang lebih besar. Selain itu, maksimalkan lingkaran terdekat dengan personal branding dan value proposition yang tepat. Berikan solusi untuk konsumen.

Baca Juga: Membedah Penggunaan Whatsapp Business untuk Naik Skala Bisnis


Bagaimana dengan influencer? Seberapa besar pengaruhnya?

Rizal kembali membagi pengalamannya dalam hal ini. Kalau untuk data online, menurutnya, kita tetap harus lebih peduli tentang bagaimana posisi kita di mata masyarakat. Untuk marketing kita memang menggunakan tim untuk evaluasi engagement dan insight sehari-hari terhadap apa yang kita unggah di sosial media. Mana yang menarik untuk dilihat. Dari sinilah kita tahu bahwa jika menjual sesuatu kita harus menjual solusi, bukan produk. Misalnya, cara membersihkan kerak pada kompor atau kuali. Inilah yang dicari follower. Setiap minggu kami tetap mengevaluasi kegiatan di media sosial kami. Evaluasi berkala adalah kuncinya, jangan sekadar unggah saja. Influencer dampaknya tidak terlalu maksimal. Lebih banyak kita membentuk follower organik dari personal branding. Kita harus solid dan militan. Kita mencari konsumen yang loyal. Jika hanya menggunakan influencer, atau ads yang agresif, belum cukup untuk membuat orang datang dan balik lagi ke produk kita.

Selain memantapkan promosi sosial media, Rizal juga yakin bahwa standar untuk usaha kuliner itu biasanya pesugihan online, alias memakai influencer. Hal ini juga salah satu yang digunakan Raja Uduk untuk membangun brand awareness terhadap produknya.

Baca Juga: Menentukan Unique Selling Proposition

Bagaimana dengan keyword dan hashtag? Teman-teman harus memahami perangkat bernama Google Keyword Search Tool. Misal orang jualan sambal balado, apa yang harus dicari? Ada teknik pencariannya di sini. Di marketplace pun, jika kita ingin menjadi nomor 1, itu ada teknik marketingnya sendiri. kita punya uang, bisa diakali juga dengan membayar orang dan memakai teknik-teknik tertentu. E-commerce juga ada pelatihannya untuk soal-soal begini, dan saya rasa teman-teman UKM harus berani coba mengikutinya, dengan mengalokasikan waktu dan sedikit biaya. Jika secara offline, untuk mencapai restoran Raja Uduk, kita menarik pelanggan harus lewat jalan-jalan tertentu. Nah, kalau di marketplace, dengan membaca data keyword dan search engine, kita justru bisa cari di mana yang sedang ramai, dan memindahkan lapak online Raja Uduk ke sana. Begitu analogi singkatnya. Kita tampil dulu, biar orang lihat. Tapi balik lagi ke faktor value proposition kita, harga, dan customer service-nya.

Baca juga: Tren dalam Instagram yang Penting Bagi Digital Marketing

Intinya, teman-teman UKM tidak boleh sekalipun meragukan apa yang terbaca lewat data hasil riset. Sebab, banyak hal yang bisa kita manfaatkan dari sana. Karenanya, ayo melek data untuk UKM naik kelas! Tonton juga yuk Webinarnya di APINDO UMKM Akademi.

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.