Dalam menganalisis dan melakukan pencatatan terhadap bisnis, salah satu laporan keuangan yang sering kali disebutkan adalah laporan laba rugi. Laporan laba rugi memang memiliki peran sangat penting dalam membantu sahabat UKM untuk mampu melihat tingkat profitabilitas dari bisnis yang dijalankan. Banyak pula aspek lain yang bisa dipelajari dari laporan laba rugi apabila mampu menganalisasi dengan baik. Melihat aspek tersebut, sahabat UKM perlu mampu membaca dan menganalisis laporan laba rugi dengan baik.

Baca Juga : Pentingnya Pencatatan Keuangan bagi UMKM


Beberapa Jenis Laba Rugi

Dalam menyusun laporan laba rugi, terdapat setidaknya dua metode yang bisa digunakan dalam melakukan pencatatan, yaitu single step dan multiple step. Kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pencatatannya.

Metode single step adalah metode yang relatif lebih mudah digunakan. Pada metode ini sahabat UKM hanya perlu mengakumulasikan pendapatan dalam satu akun yang sama, yaitu pendapatan. Di sisi lain, sahabat UKM juga hanya perlu menggabungkan pengeluaran dalam satu akun beban saja. Setelah itu sahabat UKM hanya perlu mengurangi total pendapatan tersebut dengan total biaya. Kelebihan dari metode ini adalah simplifikasi sehingga mudah dikerjakan oleh sahabat UKM. Akan tetapi, kekurangannya adalah keterbatasan unit Analisa karena memang laporan laba rugi yang juga cenderung lebih ringkas.

Baca Juga : Solusi Transaksi Digital Untuk Pengelolaan Keuangan Bisnis

Metode lainnya adalah metode multiple step. Metode ini disusun menggunakan kaidah mendasar dari laporan laba rugi yang pada umumnya digunakan. Pertama, sahabat UKM perlu mengurangi nilai pendapatan dengan harga pokok penjualan untuk mendapatkan laba kotor. Setelah itu, sahabat UKM dapat mengurangi laba kotor dengan biaya operasional untuk mendapatkan laba operasional. Setelah itu, sahabat UKM perlu mengurangi laba operasional tersebut dengan biaya bunga dan pajak untuk mendapatkan laba bersih. Metode ini memiliki kekurangan dalam hal kompleksitas yang mungkin harus dipenuhi dalam penyusunannya. Akan tetapi, metode ini mampu dianalisis dengan lebih mendalam dibandingkan dengan menggunakan metode single step.

Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut, analisa kali ini akan lebih fokus pada penyusunan laba rugi menggunakan metode multi step. Berikut adalah simulasi laporan laba rugi dari usaha kebab Ibu Damar yang akan dijadikan sebagai dasar analisa:

Baca Juga : Langkah praktis untuk melakukan pencatatan keuangan usaha

Kebab Ibu Damar

Laporan Laba Rugi

Untuk laporan 31 Desember 2020











Pendapatan Kebab


Rp 150,000,000

Harga Pokok Penjualan

Rp 90,000,000

Laba Kotor



Rp 60,000,000

Beban Operasional:




Beban Pemasaran


Rp 10,000,000


Beban Gaji Operasional

Rp 24,000,000

Beban Administrasi

Rp 5,000,000

Laba Operasional


Rp 21,000,000

Biaya Bunga Pinjaman

Rp 4,000,000

Pendapatan Keja Pajak


Rp 17,000,000

Pajak (35%)

Rp 5,950,000

Laba Bersih



Rp 11,050,000


Analisa Pendapatan

Pendapatan adalah pemasukan yang diterima oleh sahabat UKM. Dalam laporan laba rugi, pendapatan biasanya digambarkan sebagai pemasukan yang diperoleh dari penjualan produk sebagai aktivitas operasional utama. Pendapatan juga sering kali disebut sebagai omset.

Baca Juga : Menerapkan mobile banking dalam pencatatan keuangan

Pada dasarnya, pendapatan dapat dihitung dengan menghitung berapa unit yang terjual (kuantitas) dikalikan dengan harga satuan barang yang terjual (harga). Secar matematis, persamaan ini dapat dihitung sebagai berikut:

Keterangan

Kuantitas

x

Harga satuan

=

Pendapatan

Penjualan Kebab

10,000

x

Rp 15,000

=

Rp 150,000,000

Perhitungan pendapatan juga digunakan apabila terdapat beberapa produk yang menjadi sumbernya. Sahabat UKM hanya perlu menggunakan formula yang sama untuk menghitung pendapatan untuk setiap produk yang ada. Setelah itu, sahabat UKM hanya perlu menjumlahkan total pendapatan dari semua produk. Sebagai contoh dalam kasus Kebab Ibu Damar, apabila terdapat kategori kebab besar dan kebab kecil, maka sahabat UKM dapat menghitung pendapatannya dengan menggunakan formula berikut:

Baca Juga: Pengertian Bankers' Acceptance

Keterangan

Kuantitas

x

Harga satuan

=

Pendapatan

Penjualan Kebab Besar

5,000

x

Rp 17,000

=

Rp 85,000,000

Penjualan Kebab Kecil

5,000

x

Rp 13,000

=

Rp 65,000,000

Total Pendapatan





Rp 150,000,000

Dalam melakukan analisa, sahabat UKM dapat melihat komponen penyusun dari pendapatan itu sendiri, yaitu kuantitas dan juga harga. Sehingga apabila sahabat UKM berpikir ingin mendorong peningkatan omset atau pendapatan, sahabat UKM harus mampu mendorong peningkatan harga dan/atau kuantitas. Peningkatan harga dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas produk sehingga konsumen bersedia membayar lebih banyak. Sedangkan peningkatan kuantitas bisa dilakukan dengan pemasaran yang lebih masif serta melakukan ekspansi produk. Perlu diperhatikan peningkatan kuantitas bukan berarti sahabat UKM memproduksi lebih banyak, tetapi menjual lebih banyak.

Baca Juga: Sistem Informasi Debitur dan Sistem Layanan Informasi Keuangan OJK


Analisa Harga Pokok Penjualan

Harga pokok penjualan didapatkan dari total biaya produksi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk. Biaya ini biasanya mencakup 3 komponen utama, yaitu bahan baku langsung, tenaga kerja langsung serta biaya overhead produksi. Bahan baku langsung adalah bahan baku yang harus dibelanjakan dalam memproduksi barang. Dalam kasus Kebab Ibu Damar, bahan baku langsung misalnya daging, kulit kebab, sayur, mayonaise dan saus.

Sedangkan tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang bekerja secara langsung dalam memproduksi produk. Sebagai contoh, Ibu Damar membayar 1 orang untuk setiap satu dari 2 kios kebab yang dimiliki. Total gaji yang diberikan selama setahun adalah 15 juta rupiah untuk setiap orang.

Baca Juga: Tips Membaca Laporan Neraca Keuangan Bagi UKM

Terakhir, biaya overhead adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan operasional, tetapi tidak bisa ditelusuri biaya satuannya. Beberapa biaya yang masuk dalam kategori ini adalah biaya listrik, air, perawatan mesin dan lain-lain. Merujuk pada kasus Ibu Damar, beliau menghitung bahwa biaya overhead-nya mungkin mencapai 10 juta rupiah selama satu tahun. Dengan mengetahui informasi di, atas Ibu Damar dapat merinci biayanya sebagai berikut:

Keterangan

Kuantitas

x

Harga satuan

=

Pendapatan

Daging

10,000

x

Rp 2,500

=

Rp 25,000,000

Kulit Kebab

10,000

x

Rp 1,000

=

Rp 10,000,000

Sayur

10,000

x

Rp 1,000

=

Rp 10,000,000

Mayonaise dan Saus

10,000

x

Rp 500

=

Rp 5,000,000

Total Bahan Baku Langsung





Rp 50,000,000

Total Tenaga Kerja Langsung

2

x

Rp 15,000,000

=

Rp 30,000,000

Total Biaya Overhead

Rp 10,000,000

Total Harga Pokok Penjualan




Rp 90,000,000

Dalam menganalisis biaya, tentu isu yang akan muncul adalah efisiensi. Efisiensi ini sebenarnya dapat dihitung dengan mengurangi pendapatan dengan harga pokok penjualan dan mendapatkan nilai laba kotor. Dengan menggunakan laba kotor, sahabat UKM dapat melihat seberapa mampu mengonversi pendapatan menjadi laba kotor. Rasio ini disebut dengan gross profit margin dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Gross profit margin=Laba KotorPenjualan=11,050,000150,000,000=40%

Baca Juga: Apa itu Price Earning Ratio?

Dengan mengetahui gross profit margin, sahabat UKM sekarang dapat melihat berapa banyak persentase dari penjualan yang dapat dikonversi menjadi laba kotor. Pada kasus Ibu Darma, beliau dapat mengonversi 40% dari penjualannya menjadi laba kotor. Angka ini dapat dibandingkan dengan pelaku usaha lain di industri yang sama untuk mengetahui tingkat efisiensinya.


Analisa Beban Operasional

Beban operasional adalah beban yang muncul dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan, tetapi tidak memiliki kaitan dengan proses produksi. Biaya ini dapat mencakup biaya pemasaran, biaya operasional kantor, biaya karyawan kantor dan sebagainya. Biaya ini menjadi sangat penting dalam menunjang produksi dari bisnis.

Dalam kasus Ibu Darma, beliau memiliki tiga beban operasional, yaitu beban pemasaran, beban gaji karyawan operasional dan biaya administrasi. Beban pemasaran ini timbul karena Ibu Darma harus membuat hiasan pada gerobaknya untuk mempromosikan produknya. Selain itu, Ibu Darma juga membuat flyer dan mempromosikan melalui sosial media. Ada pun biaya yang dikeluarkannya dalam 1 tahun mencapai 10 juta rupiah.

Baca Juga: Apa itu Gross Profit Margin Ratio?

Ibu Darma juga memiliki satu karyawan yang bertugas melakukan pemasaran serta menjadi supervisor yang membantu beliau dalam bisnis kebab ini. Setiap bulannya, Ibu Darma membayarkan gajinya sebesar 2 juta rupiah. Ibu Darma juga mencatatkan adanya biaya administrasi berupa biaya pengeluaran ATK dan kantor yang dianggarkan sebesar 5 juta rupiah dalam setahun. Komponen biayanya menjadi sebagai berikut:

Beban Operasional:


Beban Pemasaran


Rp 10,000,000


Beban Gaji Operasional

Rp 24,000,000

Beban Administrasi

Rp 5,000,000

Analisa terhadap beban operasional dapat dilakukan juga dengan menggunakan mekanisme yang sama dengan analisa pada gross profit margin. Perbedaannya kali ini sahabat UKM dapat menggunakan laba operasional, dimana laba operasional adalah laba kotor yang sudah dikurangi oleh beban operasional. Rasio ini disebut sebagai margin operasional atau operating margin. Berikut adalah perhitungan dari rasio tersebut:Operating margin=Laba OperasionalPenjualan=21,000,000150,000,000=14%

Baca Juga : Risiko Finansial

Berdasarkan rasio tersebut, sahabat UKM dapat melihat seberapa banyak penjualan dapat dikonfirmasi menjadi laba operasional. Semakin besar persentase rasio tersebut, semakin banyak kita mampu mengkonfirmasi penjualan menjadi laba operasional. Pada kasus Ibu Darma, margin operasional ada pada angka 14 persen. Hal ini menunjukkan bahwa 14 persen dari penjualan dapat dikonversi menjadi laba operasional.


Analisa Bunga dan Pajak

Bunga dan pajak adalah komponen terakhir dalam penyusunan laporan laba rugi. Menariknya, kedua akun ini mungkin tidak banyak terdapat pada UMKM. Biaya bunga baru muncul ketika sahabat UKM memiliki utang. Dengan memiliki utang, sebenarnya sahabat UKM dapat menghemat pajak lebih banyak. Meskipun begitu, semakin banyak utang tentu akan menyerap pendapatan kita lebih banyak.

Sedangkan pajak akan muncul ketika sahabat UKM memiliki NPWP. Sahabat UKM harus segera memiliki NPWP dan membayarkan pajak. Ini dikarenakan sahabat UKM perlu memenuhi kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Pajak sendiri dapat dicari dengan menghitung persentase dari pendapatan kena pajak yang didapatkan dari laba operasional dikurangi biaya bunga.

Setelah mengurangi semua laba operasional dikurangi dengan bunga dan pajak, sahabat UKM dapat menghitung laba bersih. Laba bersih inilah yang kemudian akan dibagikan kepada sahabat UKM sebagai pemilik usaha.

Baca Juga: Apa itu Operating Expense?

Dalam melakukan perbandingan, sahabat UKM dapat menghitung rasio yang disebut sebagai margin laba bersih atau net income margin. Rasio ini dihitung dengan mengukur berapa banyak proporsi pendapatan yang dapat dikonversi menjadi menjadi laba bersih. Rumus tersebut dapat dihitung menggunakan formula berikut:

Net Income Margin=Laba BersihPenjualan=11,050,000150,000,000=7%

Dengan menghitung rasio tersebut, sahabat UKM dapat melihat berapa banyak pendapatan yang dikonversi menjadi laba bersih. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin banyak keuntungan yang dapat dibawa oleh sahabat UKM. Pada contoh sebelumnya, Ibu Darma dapat mengonversi 7 persen dari pendapatan menjadi laba rugi.

Nah, dari semua metode yang diperkenalkan tersebut, sahabat UKM dapat memanfaatkan untuk menganalisis kualitas usahanya dari sisi keuangan. Jadi, yuk mulai mencatat keuangan kita dan menganalisisnya dengan lebih baik.

Baca Juga : Pajak untuk UMK Perseorangan dan Cara Registrasinya, Sudah Tahu?

Jika merasa artikel ini bermanfaat, yuk bantu sebarkan ke teman-teman Anda. Jangan lupa untuk like, share, dan berikan komentar pada artikel ini ya Sahabat Wirausaha.