UKM Indonesia

​Bhoomi Art


C:\Users\Public\Videos\Downloads\WhatsApp Image 2022-01-05 at 09.40.04.jpeg

Sumber gambar : Setyowati via WhatsApp

Klaten, sebuah kota kecil di perbatasan antara Yogyakarta dan Solo, tanpa disangka menyimpan keindahan tersembunyi. Kain Lurik yang ilmu tenunnya diwariskan turun temurun, sudah sejak lama menjadi produk khas daerah ini. Sayangnya, kepopuleran Kain Lurik tak bisa mencapai yang dialami oleh kain-kain Batik dan Wastra kota-kota tetangganya.

Namun di tahun 2019, Setyowati, seorang perempuan muda asli Klaten, berusaha menaikkan minat pasar terhadap kain tenun Lurik. Usahanya tak sia-sia. Dalam waktu yang singkat, ia berhasil memperkenalkan Lurik ke pasar nasional dalam konsep produk sustainable yang unik.

Lurik, Kain Tenun Asli Klaten Yang Jadi Inspirasi

Setyowati lahir di Klaten, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Yogyakarta. Di desa tempatnya dibesarkan, sebagian besar penduduk bekerja sebagai pengrajin kain tenun bernama “Lurik”. Di masa kecilnya, ia kerap terpesona memandangi mereka bekerja. “Ini adalah kain tenun khas kota kami, Klaten,” ujar Setyowati. Baginya, kain lurik adalah sesuatu yang harus tetap dijaga kelestariannya.

Bertahun-tahun kemudian, Setyowati mendapatkan pekerjaan di Jepang yang mengharuskannya tinggal di negara tersebut sepanjang tahun 2014 hingga 2017. Kala itu, ia bekerja di bagian garmen sebuah perusahaan kain. Selama tiga tahun di negeri orang, rasa nasionalisme semakin mekar di dalam dirinya. “Saya benar-benar baru menyadari betapa kayanya budaya Indonesia,” ceritanya.

Sepulang dari Jepang, Setyowati mulai berpikir untuk membuat kontribusi bagi negerinya sendiri. Berbekal keahlian dasar sebagai fashion designer dan ketersediaan bahan baku kain Wastra (batik dan tenun), ia pun mencoba menjahit beberapa model busana. Sekitar tahun 2018, Setyowati mulai melakukan test market dengan mengikuti beberapa acara fashion show daerah. Ia menampilkan ragam busana pesta hasil kreasinya yang dibuat dari bahan kain tenun Klaten. Pertunjukkan fashon pertama yang diikutinya merupakan acara Iwapi Klaten. “Itu tahun 2019, saya berkesempatan show bareng dngan beberapa designer lain,” ujar Setyowati.

Tak hanya itu, ia juga acapkali mengikuti kompetisi desain busana yang diadakan berbagai pihak. Jika berhasil memasuki babak final, biasanya Setyowati diberi kesempatan untuk mewujudkan gambar dan sketsa miliknya dalam bentuk pakaian jadi. “Sering juga dikasih kesempatan buat diperagakan model di catwalk, jadi lebih terlihat dan desainernya ikutan juga,” cerita Setyowati.

Di masa-masa awal tersebut, Setyowati hanya melayani pesanan custom baju dari pelanggan yang menyukai berbagai desain miliknya. Dalam hal ini, Setyowati cukup telaten dalam menentukan desain. Ia ingin membuat suatu produk yang membuat para pemakai kain tenun dan batik tidak lagi terlihat kuno. Karenanya, ia kerap menciptakan desain-desain yang modern. Selain kain batik dan tenun, Setyowati juga menggunakan beberapa kain kerajinan lokal khas dari daerah lain di Indonesia.

Setelah berhasil menarik konsumen dan mendapat sambutan yang cukup hangat, ia pun mulai fokus mengkreasikan kain Warsa sebagai ciri khas produknya. “Saya mulai belajar buat inovasi bagaimana agar Wastra bisa dikenakan dalam setiap momen dan terlihat cantik di pemakainya,” papar Setyowati.

Di awal tahun 2019, ia mulai fokus membuat stok produk untuk dijual, meskipun belum dalam skala besar. Di bulan November pada tahun yang sama, Setyowati pun mulai mengurus dokumen legalitas dan izin usaha.

Ia pun memberikan nama Bhoomi Art sebagai brand yang menaungi hasil-hasil karyanya. “Bhoomi berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya Bumi, dan nama ini mengandung harapan, bahwa sejauh apapun kita melangkah, tempat ternyaman adalah kembali ke bumi pertiwi,” ujarnya.


Bisnis Sustainable Untuk Kelestarian Lingkungan Dan Budaya

Berangkat dari semangat untuk melestarikan budaya lurik, dalam diri Setyowati juga perlahan tumbuh keinginan untuk melestarikan alam. Cara yang ditempuhnya adalah dengan membuat produk yang sustainable dan ramah lingkungan. “Konsep produk kami sekarang adalah sustainable fashion, jadi berbahan ramah lingkungan karena dari kain-kain lokal,” papar Setyowati.

Sumber gambar : Setyowati, via WhatsApp chat

Untuk bahan baku utama produk aksesorisnya, Bhoomi Art memang menggunakan perca dari kain-kain tenun dan batik. Perca sisa produksi para pengrajin ini kemudian diolah menjadi produk craft, alias kerajinan,yang fungsional. Beberapa contoh produk yang dibuat dengan cara ini adalah clutch, dompet wanita, yang digabungkan dengan bahan perca kulit. “Kita bisa pakai leather, ataupun non-leather,” paparnya.

Pasokan bahan ini didapat Setyowati dari para supplier tenun di kota Klaten. Beberapa dari mereka, kebetulan adalah temannya yang memang memiliki usaha tenun dan batik dan bersedia mengirim sisa kain perca mereka. “Kadang juga dapat DM dari beberapa supplier di IG, biasanya karena kita pakai hashtag, terus ditawari kain-kain mereka,” papar Setyowati.

Setelah 3 tahun berjalan, Bhoomi Art perlahan mulai banyak diterima oleh masyarakat. Produk-produk buatan Setyowati dipandang sebagai produk etnik yang memberi warna baru bagi para pecinta Wastra.

Di awa, ia lebih banyak menjahit baju-baju pesta custom pesanan pelanggan. Namun saat ini, varian produknya beragam. Ada Tenun Lurik Khas Klaten, Tenun Blanket dari Jepara, hingga Tenun dari Pulau Lombok dan Bali. Untuk kategori Batik, Setywati juga memanfaatkan batik-batik dari Klaten, Solo, Sragen, dan Pekalongan.

Meski skala produksi Bhoomi Art masih termasuk kecil dan baru hanya mempekerjakan dua orang karyawan, namun jangkauan pasar mereka sudah meluas hingga ke beberapa provinsi di Indonesia. Bahkan, beberapa pesanan datang dari konsumen di negara Jepang dan Hongkong. “Tapi baru itu saja kak, itu pun tidak sering,” ujar Setyowati dengan rendah hati. Menurutnya, sampai saat ini, promosi ia lakukan via Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Meski begitu, Setyowati sempat kesulitan memenuhi pesanan pelanggan saat banyak pre-order dari konsumen, lantaran terbatasnya jumlah tenaga kerja yang ia miliki. Baju-baju buatan Bhoomi Art juga membutuhkan proses produksi yang cukup memakan waktu. Karenanya, tidak banyak produk yang bisa mereka hasilkan per harinya. “Paling banyak sehari baru menghasilkan 4 pcs,” ujarnya.

Di sisi lain, ia juga sempat terkendala dalam mengoperasikan penjualan di marketplace, sebab tidak punya tim online marketing yang kemampuannya memadai. “Karena sebagian pekerjaan hampir 50 persen saya yang handle, jadi belum bisa maksimal omzet kami, begitu pula dengan penjualan di marketplace,” tutur Setyowati.

Pandemi pun awalnya berefek cukup berat bagi mereka, terutama pada dua bulan pertama setelah masuknya virus COVID-19 ke Indonesia. Namun, Setyowati mampu berpikir cepat dalam mengatasinya. Ia mengalihkan produksi pakaian ke produksi masker. “Waktu itu, masker medis masih tergolong langka, dan Alhamdulillah ternyata peminatnya banyak,” tuturnya. Seiring meredanya pandemi, ia pun meninggalkan produksi masker dan mulai kembali fokus pada produk Wastra unik dari Bhoomi Art.


Menjadi Warna Baru Dalam Dunia Wastra

Ke depannya, Setyowati berharap berharap bisa menjangkau pasar yang lebih besar lagi. Ia juga berniat untuk terus menambah jumlah karyawan dan bermimpi untuk bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi. Ia juga ingin menjadi lebih lihai dalam mengoptimalkan fungsi marketplace dalam mendongkrak penjualan.

“Seiring berjalannya waktu, kami berharap Bhoomi Art bisa terus membawa warna baru dalam dunia Wastra,” pungkasnya.

Bhoomi Art memang termasuk produk dengan ciri khas yang begitu kentara. Produk-produknya mampu membuat pemakainya terlihat lebih muda, meskipun menggunakan seni yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tidak salah jika slogan Bhoomi Art adalah Unique, Ethnic, and Young.

Lewat kisah perjalanan bisnis Setyowati, kita bisa belajar bahwa jika bisa gigih dalam menghadapi tantangan, maka hasilnya pun tak akan mengecewakan. Meski masih dalam skala kecil, namun Bhoomi Art mampu memberi dampak nyata pada industri fesyen Indonesia dengan produk sustainable yang ramah lingkungan. Melestarikan budaya sekaligus lingkungan bukanlah hal mudah, dan Bhoomi Art mampu mencapainya dalam waktu tiga tahun.

Yuk, saatnya UKM Naik Kelas!

Referensi :

Wawancara langsung dengan Setyowati, pemilik sekaligus founder dari Bhoomi Art, via WhatsApp Chat selama bulan Desember 2021.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: