UKM Indonesia

​Azza Urbancraft


https://cf.shopee.co.id/file/6d53c3958d6704f1e0a782e2bc213779Sumber gambar : https://cf.shopee.co.id/file/6d53c3958d6704f1e0a78...

Kearifan lokal Nusantara bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh. Di tangan yang tepat, konsep-konsep sederhana dan semangat berbudaya bisa jadi bisnis yang mengundang cuan sekaligus sukses melestarikan budaya setempat. Azza Urban Craft, sebuah bisnis tas dan aksesoris di Gunung Kidul, Yogyakarta, adalah salah satu contohnya. Diawali dengan modal minim dan teknik penjahitan sederhana, bisnis ini berhasil menerapkan tema kearifan lokal sebagai ciri khas produk yang menarik hati masyarakat. Bisnis yang digawangi oleh Mei Wulandari dan suaminya ini, adalah salah satu bukti bahwa usaha yang sukses tak harus selalu mengusung konsep yang rumit dengan buaya besar.

Berawal Dari Bisnis Souvenir Sederhana di Gunung Kidul

Nur Dwi Mei Wulandari merupakan seorang perempuan yang memiliki semangat besar. Di tahun 2011, ia berani pindah mengikuti suami ke Gunung Kidul, Yogyakarta, tempat yang saat itu sangat asing baginya. “Kami sama sekali belum mengenal daerah ini, dan bahkan sama sekali tidak memiliki kenalan,” cerita Mei. Namun hal ini tidak menghentikannya dan suami untuk mendirikan bisnis demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dengan mengandalkan media sosial, mereka pun mulai mencari peluang usaha yang mudah, murah, dan memiliki pangsa pasar luas. “Akhirnya, setelah beberapa waktu, kami memilih membuat souvenir berbahan flanel,” ujar Mei.

Lini bisnis ini tidak mereka ambil tanpa pertimbangan matang. Menurut Mei, ia dan suami yakin bahwa sektor kerajinan mudah dipelajari pembuatan produknya. Selain itu, pangsa pasarnya pun sangat luas, dan pemasaran bisa dilakukan baik secara online maupun offline. Di sektor kerajinan ini pula, Mei bisa terus mengembangkan ide-ide kreatif miliknya. “Karena pada dasarnya saya dan suami menyukai hal-hal yang berbau seni, jadi semakin lama kami semakin enjoy mendalami usaha ini,” papar Mei.

Di tangan keduanya, kerajinan flanel sederhana buatannya mampu menghasilkan lebih dari cukup selama beroperasi selama tiga tahun.

Tak lama setelah itu, Mei pun mulai belajar menjahit dan membuat tas secara mandiri. Lama kelamaan, ia dan suami mulai tertarik untuk mendalami bisnis pembuatan tas dengan bahan kain. Akhirnya, pada tahun 2014, mereka memutuskan untuk mengalihkan fokus bisnis pada produk-produk tas kain. “Dan di tahun 2019, saya mulai fokus menggunakan wastra nusantara,” ujar Mei.

Nama Azza Urban Craft, yang disematkan sebagai brand oleh Mei pada tahun 2017, diambil dari nama anak pertamanya : Az-Zahron. DI tahun 2021, ia juga mulai membranding lini produk tasnya dengan merk Migunanie.

Mei merasa beruntung, bahwa sejak awal memproduksi tas di bawah brand Azza urban Craft, respon masyarakat sudah sangat baik. “Berawal dari produk souvenir, masyarakat mulai mengenal kami sebagai pembuat souvenir murah meriah. Kemudian ketika beralih produksi tas, masyarakat memberikan respon yang bagus,” papar ibu dari tiga anak ini. Meski konsumen awalnya kaget lantaran harga yang mereka tawarkan lebih tinggi, namun pada akhirnya respon mereka menjadi lebih baik. Sebab seiring berjalannya waktu, terbukti bahwa produk Azza Urbancraft punya kualitas baik, tahan lama, dan unik dibandingkan produk lain.

Salah satu keunikannya terletak pada kemampuan mereka membuat produk yang disesuaikan dengan desain maupun kebutuhan konsumen. Karena itu, Mei lebih banyak menerima pesanan khusus dari pelanggan. “Produk saya lebih ke konteks membantu para pelanggan untuk memiliki tas impian mereka,” paparnya.

Hal ini tidak berarti mereka berhenti membuat produk ready stock. Untuk lini ini, Mei dan timnya berfokus pada tema Wastra Nusantara, yang kental dengan konsep kearifan lokal etnik dan merakyat, lewat desain unik. “Kami mengangkat cerita atau keseharian masyarakat, adat istiadat, icon-icon daerah, dll, sebagai contoh kami mengambil tema mbok jamu yang menjajakan dagangannya di depan tugu Jogja, tokoh-tokoh pewayangan, Tukang becak di Malioboro, dan lain-lain,” paparnya.

Produk-produk Wastra Nusantara andalan Azza Urban Craft punya keunikannya masing-masing. Mulai dari penggunaan bahan kain, model dan desain, aksesoris yang digunakan, hingga penempatan aplikasinya dalam fesyen. Utamanya, produk ready stock yang mereka buat adalah tas-tas wanita, seperti clutch, tas tenteng, sling bag, hingga ransel dan koper.

Mengatasi Persaingan dan Berkembang

Sepanjang mengembangkan Azza Urban Craft, Mei mengaku pernah melewati beberapa tantangan. Salah satunya adalah dalam hal persaingan bisnis, di mana mereka punya beberapa kompetitor ketat dengan produk yang mirip. Untuk mengatasinya, Mei selalu berusaha untuk tetap konsisten dalam tema kearifan lokal dan Wastra Nusantara milik mereka. “Kami juga menambahkan aplikasi-aplikasi unik dan etnik, serta terus menjadikan produk kami memiliki ciri khas khusus,” jelasnya.

Tantangan lain adalah masalah permodalan yang sedikit banyak mempengaruhi jalannya bisnis bagi Mei. Ia juga sempat kesulitan memperoleh tenaga kerja yang handal dan mampu mengikuti standar yang dibuatnya. Kala pandemi menghantam Indonesia, mereka harus benar-benar mengencangkan sabuk dan bertahan dengan susah payah. “Banyak orderan dibatalkan, dan kami harus tetap menggaji para tenaga kerja,” tutur Mei. Namun, seiring berjalannya waktu, semua masalah ini bisa diatasinya.

Melewati berbagai suka dan duka, Azza Urban Craft sukses berkembang dari berbagai sisi. Beberapa tahun setelah berdiri, omzet mereka mengalami kenaikan yang cukup bagus. Rangkaian produk mereka pun meluas. “Yang awalnya hanya tas batik untuk anak, kemudian mulai merambah tas dewasa dengan bahan-bahan dari kain dril, dan kanvas. Untuk sekarang, kami fokus pada tas berbahan dasar Wastra Nusantara dengan menggunakan aplikasi bordir dan bordir perca,” papar Mei panjang lebar.

Dari segi branding dan marketing, konsep yang mereka usung juga sudah jauh lebih dikenal oleh masyarakat. Tentu saja, produk-produk tas bertema Wastra Nusantara terus menjadi daya tarik utama.

Di tahun 2018, Azza Urban Craft berhasil menjalin kerjasama dengan Depayu. Kolaborasi ini menjadi titik tolak ekspansi produk mereka secara lebih luas ke berbagai wilayah Nusantara. “Kami mulai merambah ke seluruh Nusantara, dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, bahkan sampai Papua,” ujar Mei. Berkembangnya jangkauan pasar ini juga sekaligus mendorong Azza Urban Craft untuk fokus dalam memproduksi lebih banyak barang, lantaran permintaan masyarakat yang bertambah banyak.

Seiring dengan berbagai perkembangan mereka, Mei punya harapan besar bagi Azza Urban Craft di masa depan. Ia ingin bisnisnya tumbuh semakin baik dan bermanfaat bagi banyak orang. Di samping itu, ia juga bercita-cita agar produknya bisa mewujudkan mimpi banyak pihak. “Impian saya, produk kami yang mengusung Wastra Nusantara ini semakin banyak pemakainya, dan bukan hanya di dalam negeri tapi juga meluas sampai keluar negeri,” ujar Mei.

Melihat kegigihan dan perjuangan Mei Wulandari dalam mengembangkan Azza Urban Craft, bukanlah hal yang mustahil jika semua harapannya bisa terwujud dalam waktu dekat. Kisah perjalanan salah satu UKM Juwara ini patut menjadi inspirasi bagi Sahabat UKM semua, terutama yang sedang gagal atau baru memulai bisnisnya. Sebab, sudah saatnya UKM Naik Kelas!

Referensi :

Wawancara langsung dengan Ibu Mei Wulandari, Owner dan Founder dari Azza Urbancraft, selama bulan November 2021.

Mungkin Anda perlu membaca Artikel ini: