​Tips Pemanfaatan Barcode Dalam Industri Retail dan Manufaktur

Artikel · Ulasan - Bisnis Umum
Lama Baca : 4 Menit

Gambar diambil dari barcode.snainfotech.co.in

Di artikel-artikel sebelumnya kita sudah membahas banyak mengenai barcode. Kode ini umumnya dicetak atau ditempelkan pada kemasan suatu produk yang diproduksi massal, mulai dari produk gula, susu, sarden, sabun, hingga handuk dan pakaian. Terutama jika kita menjumpai produk-produk ini di supermarket dan industri retail lainnya.

Nah di artikel Tips Bisnis ini kita akan membahas secara lengkap bagaimana pemanfaatan barcode untuk teman-teman yang bergerak di industri retail dan manufaktur.


Siapa Saja yang Biasanya Menggunakan Barcode?

Pada awalnya, sistem barcode hanya digunakan di industri retail, yaitu untuk mengotomatiskan sistem pemeriksaan di swalayan. Namun, karena biayanya murah dan kegunaannya banyak, saat ini barcode juga sudah mulai dimanfaatkan pada industri lain, seperti rumah sakit yang menyematkan barcode pada gelang pasien-pasiennya untuk identifikasi. Di bidang logistik, peran barcode adalah mengidentifikasi supply chain. Barcode juga digunakan di industri penerbangan (informasi penumpang dan penerbangannya), pendidikan (kartu pelajar), dan perbankan. Saat ini, sudah lazim pula bagi masyarakat menggunakan barcode untuk transaksi pertukaran uang dan jual-beli, terutama secara online dan digital.

Dalam dunia perbankan finansial (financial banking), sudah sangat lazim penggunaan barcode QR Code yang terhubung dengan sistem pembayaran digital seperti OVO, GoPay, ShopeePay, dan lain-lain. Di luar itu? Beberapa bank –swasta maupun pemerintah—aplikasi di telpon selular juga sudah mulai menggunakan QR Code untuk mempermudah transaksi. Di beberapa sekolah dan universitas, transaksi di kantin bisa juga dengan menggunakan barcode di kartu pelajar. Bisa juga untuk absensi dan peminjaman perpustakaan. Tidak perlu lagi para guru menyebut nama anak satu per satu. Juga di bidang hospitality, seperti jasa perhotelan dan penginapan, di mana kode booking dan data check-in bisa langsung ditampilkan hanya melalui scan barcode yang diterima pelanggan.

Terakhir, yang paling penting, adalah pemakaian barcode dalam industri manufaktur, yaitu proses awal sebelum barcode masuk ke retail. Di sini ada 3 kategori, yaitu manufaktur besar, manufaktur menengah, dan manufaktur kecil. Nah, teman-teman UMKM dan IKM termasuk dalam dua kategori terakhir.


Manfaat Barcode untuk Retail

Selain itu, untuk industri retail, pemakaian barcode juga bisa melacak banyak hal tentang suatu produk. Mulai dari kapan pihak retailer menerima produk, berapa banyak jumlahnya, berapa banyak yang diletakkan di display atau di gudang, hingga berapa banyak yang terjual. Semua informasi terkait produk bisa dimasukkan dan ada di barcode.

  • Akurasi : Memindai barcode memiliki akurasi yang lebih baik ketimbang entri data manual saat menangani pencatatan dari pengiriman hingga penjualan
  • Efisiensi : Barcode hanya memerlukan pemindaian sederhana untuk membaca keterangan produk sehingga proses lebih cepat, menghemat waktu
  • Biaya : Berkat font barcode dan dan biaya pemindai yang wajar, banyak bisnis bisa membelinya secara wajar.
  • Fleksibilitas : Kode 1D dan 2D tengah berkembang dan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi. Bisa juga untuk mempercepat proses manajemen inventaris dan checkout.

Ini juga mempermudah pihak retailer saat mereka mau mengecek status inventori suatu produk. Khusus untuk bagian inventaris, umumnya retail memanfaatkan barcode untuk hampir semua proses dan pergerakan yang melibatkan produk. Mulai dari kedatangan barang, di mana setiap produk akan di-scan barcode nya sebagai data awal dari produsen. Semua data mulai kode produksi hingga tanggal kadaluarsa tersedia di barcode. Lalu masuk ke gudang, data akan ditambahkan ke barcode, begitu pula saat sebagian di antaranya akan diletakkan di rak display. Pengecekan produk umumnya dilakukan hampir setiap hari dan data inventori yang ada di barcode sangat berguna untuk mempercepat proses ini. Sejak awal suatu produk diterima dari supplier hingga barang ini keluar dari toko (atau dikembalikan), semuanya bisa dilacak.


Manfaat Barcode Untuk Industri Manufaktur

Ada banyak sekali peran barcode dalam proses produksi barang di industri manufaktur, baik makanan, pakaian, barang pecah-belah, kerajinan seni, dan lain-lain. Pertama, yaitu untuk mempermudah proses pelacakan informasi lengkap tentang suatu produk, mulai dari bahan baku, produksinya, kapan, siapa hingga menjadi suatu produk sempurna.

Mulai dari manajemen gudang (warehouse management), di saat bahan mentah yang kita terima dari supplier, kita bisa mendata segala hal –tanggal kedatangan, berat, kondisi, ukuran, dsb—ke dalam barcode. Misalnya, kita mendapat tepung dari supplier yang sudah ada barcode-nya, kita bisa langsung mendata tanggal expired, perlakuan khusus yang diperlukan, asal produk, dll. Jika belum ada barcode, kita bisa membuat barcode sendiri untuk kepentingan identifikasi. Selanjutnya, saat memasuki proses produksi, kita bisa pula menggunakan data yang sudah dimasukkan ke barcode untuk memperkirakan sisa dan keperluan bahan baku.

Misalnya, untuk mencetak sebuah kue kita membutuhkan 10 g tepung dan 5 gr gula dan kita sudah punya resep lengkapnya. Nah, informasi ini bisa terintegrasi langsung dengan bagian gudang dan diteruskan pada bagian produksi apa yang meminta bahan baku tersebut. Estimasi pengerjaan produk juga bisa diintergrasikan dengan tanggal kedatangan produk atau tanggal kadaluarsa yang tertera di bahan baku sehingga bisa dikontrol pengolahannya sebelum terlalu lama di gudang. Saat produksi sudah selesai dan dikemas, data-data produk semuanya sudah kita masukkan lewat barcode, tinggal kita distribusikan ke retailer. Sama dengan manfaatnya di sektor retail, di sektor industri juga barcode bisa digunakan untuk efisiensi produksi dari awal bahan baku hingga proses akhir ke distributor. Hal ini tentu sangat berguna bagi sobat UMKM untuk menghemat waktu dan punya sistem pendataan lebih akurat.


Mengatasi Kekeliruan Dalam Pemakaian Barcode

Penggunaan barcode dan pemasukan data-datanya ke dalam sistem tentu membutuhkan tenaga manusia. Dalam hal ini, kadang ada kesalahan yang dilakukan saat memasukkan data, alias human error. Misalnya saja, petugas salah atau tertukar saat memasukkan data, sehingga barcode yang ditempel kemudian jadi salah alamat.

Nyatanya, memang banyak kasus seperti ini, baik di pelaku retailer maupun produsen. Saat barang masuk ke retailer dan tidak punya barcode, maka pihak retailer akan menempel barcode ulang. Dengan begini, berarti ada dua skenario. Pertama, human error terjadi di pihak retailer. Jika begini, kesalahan bisa langsung dikoreksi oleh sistem. Misalnya, warna suatu produk yang dijual adalah cokelat, tapi saat pembayaran dan di-scan, data warna yang muncul adalah matcha. Nah, kejadian ini bisa langsung dilaporkan ke sistem untuk dilakukan pengecekan produk yang dimaksud dan dilakukan koreksi. Kedua, mungkin saja human error ada karena kesalahan di produsennya sendiri, yang mana dari sana sudah salah memasukkan barcode. Jika seperti itu, biasanya retailer akan mengembalikan produk (return).

Lalu bagaimana jika yang bermasalah adalah jumlah? Misalnya, saat menggunakan barcode untuk bahan di gudang, teman-teman UMKM sadar bahwa jumlah bahan di sistem 1000, namun ternyata realitasnya tidak segitu. Bagaimana mengatasinya? Tenang, tidak ada yang tidak bisa diatasi dalam hal ini. Faktanya, kasus seperti ini pun sering terjadi, biasanya karena terselip atau jatuh. Dengan teknologi barcode, kekeliruan ini justru menjadi lebih gampang dilacak. Pasalnya, sejak bahan masuk gudang, data sudah masuk ke sistem, hingga bahan siap diproduksi. Jika ketahuan jumlahnya kurang, kita bisa langsung update di sistem. Setelah itu, teman-teman bisa lakukan pengecekan di laporan bahan masuk hingga keluar, di tahap mana jumlah bahan tiba-tiba berkurang. Verifikasinya lebih mudah, karena teman-teman tidak perlu tracking manual dan tinggal lihat sistem saja.

Bagaimana? Sudahkah teman-teman memahami manfaat dan fungsi barcode dalam industri kecil dan menengah? Diharapkan, setelah membaca artikel ini, pegiat UKM sekalian bisa lebih aktif memanfaatkan barcode, baik dalam produksi barang maupun penjualannya di industri retail. Sebab, pemakaian barcode akan lebih mudah membantu kita untuk naik kelas!

Biar makin paham, teman-teman bisa tonton Webinarnya di APINDO UMKM Akademi


Sonia Fatmarani, Kontributor Penulis ukmindonesia.id

Penulis : Sonia Fatmarani; Editor : Banu Rinaldi
2021-05-12 12:34:21
Konten Terkait

Ulasan - Bisnis Umum

​UKM Wajib Tahu Sistem Barcode

Di masa kini, tentu sahabat UKM tidak lagi asing dengan yang namanya barcode. Hampir di setiap kemasan produk yang dijual di toko dan swalayan, baik itu roti, masker, air mineral, hingga makanan ringan, tercetak suatu kotak yang terdiri dari garis-garis vertikal tebal dan tipis. Sebenarnya, apa sih barcode ini? Bagaimana cara penggunaannya? Teknologi apa saja yang digunakan? Yuk kita bahas di artikel Tips Bisnis ini.

2021-05-12 12:45:39

Ulasan - Bisnis Umum

​Inilah Prosedur dan Biaya Pendaftaran Barcode di Indonesia

Menyematkan barcode ke barang dagangan menjadi praktik yang main lazim dari hari ke hari. Apalagi di era digital seperti sekarang, di mana teknologi terus berkembang pesat. Di kalangan industri kecil dan menengah, barcode juga punya fungsi yang tak kalah penting, mulai dari mengontrol pasokan bahan sampai melancarkan ekspor produk. Bagaimana sih cara membuat barcode? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

2021-04-30 06:44:57

Wirausaha Inspirasi

Ademuy Gelato : Sukses Memasarkan Produk Susu Lokal

Menggeluti usaha perdagangan susu, es krim, dan gelato bukanlah hal baru di kalangan para pegiat UKM. Apalagi jika masuk ke bisnis gelato, yang mana sebagai dessert rendah kalori, kini sedang naik popularitasnya di kota-kota besar. Peluang besar inilah yang kemudian dilihat oleh Andromeda Sindoro, CEO sekaligus Founder Sweet Sundae Ice Cream dan Ademuy Gelato.

2021-04-30 06:31:40

Kamus Bisnis

Corporate Social Responsibility

Aktivitas perusahaan seperti produksi, distribusi, hingga penjualan pasti memiliki dampak positif dan negatif bagi lingkungan sekitarnya. Mungkin kita tidak begitu mempermasalahkan dampak positifnya. Namun, bagaimana dengan dampak negatif yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan? Apakah CSR penting untuk diketahui oleh pelaku UKM?

2021-04-10 17:46:12